Hukum Mengeraskan Bacaan Ayat Qur'an, Tahlil Atau Dzikir Saat Mengiringi Jenazah






Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Boleh jadi antum sering mendapati sebagian saudara kita saat membawa/mengiringi jenazah dari rumah menuju ke pemakaman diiringi dengan suara takbir, tahlil, tasbih, atau bacaan Al-Qur'an dengan suara yang keras atau mungkin pula misalkan diiringi suara wahai saudaraku mintakan ampunan untuk saudaramu ini, dan sebagainya.

Bagaimana hukum masalah ini sebenarnya?

Dalil yang terkait dengan masalah ini, Qois bin 'Abad radhiallahu ‘anhu menceritakan:

كانَ أصحابُ رسولِ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يَكْرَهونَ رفعَ الصَّوتِ عندَ الجَنائزِ وعِندَ القتالِ وعندَ الذِّكرِ

"Para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci mengeraskan suara (dalam tiga keadaan -pent), mengeraskan suara saat mengantar jenazah, mengeraskan suara saat berperang, mengeraskan suara saat berdzikir". [HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 34.104, Baihaqi 7433, Al Khothib dalam Taarikh Baghdaad VIII:91, dengan sedikit perbedaan redaksi, dan lain-lain].

Derajat Atsar Diatas


Kata Ibnul Mulaqqin dalam Tuhfaatul Muhtaaj [II:21]: “Shahih atau Hasan“. Kata Ibnul Hajar dalam Al Futuuhaat Ar Rabaniyah [IV:184]: “Mauquf Shahih“. Kata Al Albani rahimahumullah dalam Ahkamul Janaa’iz [hal.92]: “Seluruh perawinya kredibel”.

Dalam kesempatan kali ini ana akan memfokuskan pembahasan pada mengeraskan suara saat mengiringi jenazah dengan bacaan Al-Qur'an atau dzikir-dzikir atau kalimat tertentu lainnya, seperti yang banyak dilakukan oleh kaum muslimin dewasa ini.

Pendapat Empat Madzhab Dalam Masalah Ini


Atas dasar atsar diatas, maka empat madzhab sepakat tidak disyariatkannya membaca dengan keras ayat Qur'an maupun dzikir saat mengusung jenazah

Ini adalah pendapat dari Madzhab Hanafi: (Al Bahrur Raa’iq karya Ibnu Najim rahimahullah II:207), Madzhab Maliki (Syarah Mukhtashar Khalil, karya Al Khurasyi rahimahullah [II:136-137], Madzhab Syafi'i (Al Majmu’, karya Imam Nawawi rahimahullah [V:321]), Madzhab Hanbali: (Al Mughni, karya Ibnu Qudamah rahimahullah [II:355]). Bahkan Ulama menganggap hal ini sebagai Ijma’.

Hal ini diantaranya dikatakan oleh Ibnu Muflih rahimahullah dalam Al Furu’ [III:369]

ويكره رفع الصوت ولو بالقراءة اتفاقاً

“Dan dibenci mengeraskan suara (saat mengantar jenazah) sekalipun membaca ayat Qur'an berdasarkan kesepakatan Ulama“ (Al Furu, karya Ibnu Muflih rahimahullah III:369).

Imam Nawawi rahimahullah pakar hadits dan fiqih Madzhab Syafi'i, sekalipun beliau termasuk yang berpendapat ada bid'ah hasanah, tetapi dalam bab ini berkata:

واعلم أن الصواب المختار ما كان عليه السلف رضي الله عنهم: السكوت في حال السير مع الجنازة ، فلا يرفع صوتا بقراءة ، ولا ذكر ، ولا غير ذلك ، والحكمة فيه ظاهرة ، وهي أنه أسكن لخاطره ، وأجمع لفكره فيما يتعلق بالجنازة ، وهو المطلوب في هذا الحال فهذا هو الحق ، ولا تغترن بكثرة من يخالفه

“Dan ketahuilah bahwa yang benar dan yang dipilih (diamalkan) para Salaf adalah: "Diam saat mengiring jenazah, tidak mengeraskan suara baik itu berupa ayat Qur'an, dzikir dan selain dari itu." Dan hikmah dari ini semua itu jelas, yakni lebih mententramkan pikiran dan lebih berkonsentrasi dengan apa yang terkait dengan jenazah. Dan memang beginilah kondisi yang mesti ada saat mengiringi jenazah. Maka inilah yang benar. Dan jangan sampai kamu tertipu dengan banyaknya orang yang menyelisihinya“. (Al Adzkaar hal: 160).

Bahkan beliau juga sampai berkata:

وأما ما يفعله الجهلة من القراءة على الجنازة بالتمطيط وإخراج الكلام عن موضعه فحرام بالإجماع

“Dan adapun yang dilakukan oleh orang-orang bodoh berupa membaca Al-Qur'an saat mengantar jenazah dengan memanjangkan huruf-hurufnya dan mengeluarkan kalimat dari tempatnya maka haram berdasarkan Ijma’". (Al Adzkaar hal. 160).

Ibnu Muflih rahimahullah saat membahas masalah mengeraskan bacaan Qur’an atau dzikir saat mengiring jenazah:

ويكره رفع الصوت ولو بالقراءة اتفاقاً قاله شيخنا وحرمه جماعة من الحنفية وغيرهم.

"Dan dibenci mengeraskan suara walaupun yang dibaca itu ayat Qur'an berdasarkan Ijma’, hal ini telah dikatakan oleh guru kami dan bahkan sekelompok Ulama dari Madzhab Hanafi dan selain mereka mengatakan keharamannya". (Al Furu’ III:205).

Telah diriwayatkan sejumlah perkataan para Salaf yang membenci dan menyebutnya sebagai bid'ah kepada orang yang saat mengiringi jenazah berkata: “Mintakan ampunan untuk saudaramu ini.”

Sejumlah perkataan para Salaf dalam mengingkari mengeraskan bacaan “Mintakan ampunan untuk saudaramu ini!” atau yang semakna dengan ini saat mengantar jenazah.

Perhatikan perkataan Ibnu Qudamah rahimahullah berikut:

وكره سعيد بن المسيب ، وسعيد بن جبير ، والحسن ، والنخعي ، وإمامنا وإسحاق ، قول القائل خلف الجنازة: استغفروا له .

Sa’id bin Musayyad (pemuka tabi’in senior yang wafat tahun 94 H -pent), Sa’id bin Jubair (ahli tafsir ternama masa tabi’in, wafat 95 H -pent), Al Hasan, An Nakho’i (beliau tabi’in ternama wafat 96 H -pent) dan imam kami (Ahmad bin Hanbal, pendiri Madzhab Hanbali, wafat 241 H -pent) serta Ishaq (pakar fiqih yang wafat tahun 163 H -pent) rahimahumullah ‘alaihim ajma’in membenci seseorang yang dibelakang (usungan) jenazah berkata: “mintakanlah ampunan untuk dia“.

وقال الأوزاعي بدعة .

Berkata Al Auza’i rahimahullah (bergelar Syaikhul Islam, wafat 157 H -pent): Bid'ah.

وقال عطاء : محدثة .

Berkata Imam ‘Atho rahimahullah (pakar hadits dan fiqh masa Tabi’in yang wafat tahun 115 H): “Muhdats/Bid'ah“.

وقال سعيد بن المسيب في مرضه: إياي وحاديهم ، هذا الذي يحدو لهم ، يقول: استغفروا له ، غفر الله لكم .

(Bahkan) Sa’id bin Musayyab radhiallahu ‘anhu saat sakitnya berpesan: "Waspadalah akan kecenderungan mereka (kepada kebid’ahan), dimana mereka berkata (saat mengiringi jenazah): "Mintakan ampunan untuk saudaramu ini, semoga Allah (pun mengampuni) dosa-dosamu.“

وقال فضيل بن عمرو: بينا ابن عمر في جنازة ، إذ سمع قائلا يقول : استغفروا له ، غفر الله لكم . فقال ابن عمر: لا غفر الله لك رواهما سعيد

Fudhail bin ‘Amru rahimahullah berkata: "Saat Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma (Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) mengantar jenazah, tiba-tiba beliau mendengar seseorang berkata: ‘Mintakan ampunan untuknya (jenazah), semoga Allah (pun) akan mengampuni kalian. Maka Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhu segera meresponnya dengan berkata (kepada laki-laki tadi): “Semoga Allah tak memaafkanmu". Kedua riwayat diatas diriwayatkan oleh Sa’id.

قال أحمد ولا يقول خلف الجنازة : سلم رحمك الله فإنه بدعة ولكن يقول: بسم الله ، وعلى ملة رسول الله صلى الله عليه وسلم ….

Dan berkata Imam Ahmad rahimahullah: "Dan janganlah seseorang diantara kalian mengucapkan dibelakang (usungan jenazah): “Keselamatan (semoga dilimpahkan padamu), semoga Allah merahmatimu. Ini adalah bid'ah". Tetapi (yang benar) hendaklah mengucapkan: "Bismillah Wa'alaa Millati Rasulillah shallallahu ‘alaihi wa sallam." (Al Mughni II:175)

Kesimpulan
Dengan demikian dapat disimpulkan mengiringi jenazah dengan mengeraskan bacaan ayat Qur'an, atau dzikir seperti membaca tahlil, takbir, tasbih, dan kalimat seperti “mintakan ampunan untuk saudara“ saat mengiringi jenazah dengan suara keras dan sebagainya adalah bid'ah dhalalah dan sejatinya memang tak ada bid'ah hasanah dalam urusan ibadah.

Walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin, wa shallallahu ‘alaa Muhammadin.

🔰 @Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram     : http://t.me/Manhaj_salaf1
📱 Whatshapp : 089665842579
🌐 Web              : dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram    : bit.ly/ittibarasul1
🇫 Fanspage     : fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Belum ada Komentar untuk "Hukum Mengeraskan Bacaan Ayat Qur'an, Tahlil Atau Dzikir Saat Mengiringi Jenazah"

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel