Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajarlah Untuk Menjawab Pertanyaan Terkait Agama dengan Jawaban Aku Tidak Tahu





Oleh Ustadz Berik Said hafizhahullah

Diantara yang membinasakan kita adalah kita seringkali memaksakan diri ikut menjawab atau mengomentari persoalan terkait agama yang kita sebenarnya belum memahami dengan benar masalah tersebut. Janganlah meremehkan masalah ini. Ingat berbicara atau berkomentar masalah agama yang kita belum mengetahuinya maka ini termasuk sebesar-besarnya dosa dan seharam-haramnya perbuatan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu (Yang Shahih) tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.
(QS. Al Isra’ : 36)

Belajarlah untuk mengatakan "Aku Tidak Tahu, Wallahu a’lam"


Jangan kalian mengira seseorang yang menjawab persoalan dengan jawaban “Saya belum tahu, Wallahu a’lam“ itu berarti menunjukkan bahwa ia adalah orang bodoh, justru jawaban itu menunjukkan dia seorang yang 'alim.

Orang alim itu justru orang yang saat ditanya tentang persoalan terutama masalah Agama yang dia belum mengetahuinya maka ia bukannya memaksakan diri menjawab seenaknya, tetapi dia berani menyatakan “Aku Tidak Tahu, Wallahu a’lam“, bahkan ini jawaban orang berilmu.

Siapa yang meragukan keilmuan Imam Malik  rahimahullah ? Tentu tidak ada seorangpun di kolong langit ini yang meragukan kedalam ilmu agama Imam Malik rahimahullah.

Tetapi coba perhatikan apa yang dikisahkan oleh seorang murid Imam Malik rahimahullah yang bernama Al-Haitsam bin Jamil rahimahullah berikut:

شَهِدْتُ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ سُئِلَ عَنْ ثَمَانٍ وَأَرْبَعِينَ مَسْأَلَةً فَقَالَ فِي اثْنَتَيْنِ وَثَلَاثِينَ مِنْهَ  لَا أَدْرِي

“Aku menyaksikan (sendiri) Malik bin Anas rahimahullah pernah ditanyakan 48 pertanyaan, (dari 48 pertanyaan yang diajukan kepada beliau itu), maka 32 pertanyaan dijawab dengan jawaban: “Aku tidak tahu!". (At Tamhid I:731. Atsar ini berderajat shahih)
Periksa dalam https://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=356062

Dari kisah di atas kita tahu, Imam Malik rahimahullah sebagai pakar hadist yang sangat handal dan ahli fiqh yang amat mumpuni, ternyata saat ditanya tentang hukum agama dari 48 pertanyaan yang diajukan, maka beliau hanya bisa menjawab 16 pertayaan sementara 32 pertanyaan beliau jawab dengan “aku tidak tahu“.

Dalam versi lainnya diceritakan ada seseorang yang sengaja jauh-jauh melakukan perjalan menemui Imam Malik rahimahullah untuk menanyakan berbagai persoalan agama. Setelah bertemu dengan beliau, laki-laki itu menanyakan 40 masalah agama. Ternyata Imam Malik rahimahullah hanya bisa menjawab 5 pertanyaan, sementara yang 35 pertanyaan lainnya beliau jawab dengan jawaban singkat: “Aku tidak tahu“

Agaknya lelaki ini keheranan bagaimana orang sekelas Imam Malik rahimahullah justru banyak menjawab persoalan agama dengan jawaban “aku tidak tahu“.

Maka segera lelaki ini berkata:

جئتك من كذا وكذا، وتقول: (لا أدري)،

"Aku datang jauh-jauh, namun jawabnya (hampir semuanya -pent): “Aku tidak tahu“.

Maka Imam Malik rahimahullah menjawab dengan tegas:

نعم، اركب راحلتك، وقل للناس: سألت مالكًا؟ وقال: (لا أدري)»

"Ya, silahkan kamu kembali (pulang ke daerahmu), kendarai kendaraanmu dan sampaikan pada orang lain bahwa aku telah bertanya kepada Malik rahimahullah, namun jawaban beliau “aku tidak tahu“. (Siyaar A’lamun Nubalaa VIII:77)

Masya Allah, bayangkan, sekelas beliau tidak merasa gengsi atau berlagak sok tahu, padahal beliau adalah gudangnya ilmu. Bandingkan dengan kita, yang tiba-tiba seakan kita hanya dalam waktu 2 atau tiga bulan hijrah saja sudah menjadi ahli dalam bidang Jarh wa ta’dil, hadits, fiqh, tafsir dan segudang cabang ilmu syari’at lainnya, semuanya kita komentari seakan kita faham semua. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Maka belajarlah diam dan belajarlah menyatakan “Aku tidak tahu“ dalam perkara-perkara yang memang kita merasa belum mampu memahaminya. Jangan Takalluf (memaksakan diri) agar dianggap berwawasan luas, maka semuanya kita komentari tanpa ilmu yang memadai. Ujung dari kenekatan semacam ini pada akhirnya seringkali Syubhat dijawab dengan Syubhat lagi.

"Barangsiapa menyalakan api fitnah , maka dia sendiri yang akan menjadi bahan bakarnya".

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Belajarlah Untuk Menjawab Pertanyaan Terkait Agama dengan Jawaban Aku Tidak Tahu"