Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tidak Ada Amalan Khusus Pada Malam Nishfu Sya'ban




Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Belakangan di medsos mulai ramai orang menyebarkan tulisan berisi anjuran untuk mengamalkan suatu ritual khusus untuk diamalkan pada malam Nishfu Sya’ban.

Ada yang menyerukan melakukan membaca surat Yasin sekian kali, ada yang menekankan untuk memperbanyak membaca kalimat thoyyibah pada malam tersebut, ada pula yang menganjurkan shalat malam khusus Nishfu Sya’ban.

Sebenarnya memang diantara Ulama terdahulu juga ada yang menyarankan untuk melakukan shalat malam Nishfu Sya'ban, diantaranya adalan Imam Ghazali rahimahullah.

Bahkan beliau rahimahullah sampai menjelaskan secara spesifik tentang jumlah raka’at dan cara pelaksanannya.
Beliau berkata:

وأما صلاة شعبان فليلة الخامس عشر منه يصلي مائة ركعة كل ركعتين بتسليمة يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة قل هو الله أحد إحدى عشرة مرة وإن شاء صلى عشر ركعات يقرأ في كل ركعة بعد الفاتحة مائة مرة قل هو الله أحد فهذا أيضاً مروي في جملة الصلوات كان السلف يصلون هذه الصلاة ويسمونها صلاة الخير ويجتمعون فيها وربما صلوها جماعة 

“Adapun shalat sunnah Sya'ban ialah malam kelima belas dari bulan Sya'ban. Dilaksanakan sebanyak 100 raka'at, setiap dua rakaat satu salam, setiap rakaat setelah Al-Fatihah membaca Qulhuwallahu Ahad (Surat Al-Ikhlas) sebanyak 11 raka'at. Jika menghendaki, seseorang dapat shalat sebanyak 10 rakaat, setiap rakaat setelah Al-Fatihah Qulhuwallahu ahad 100 kali. Ini juga diriwayatkan dalam sejumlah shalat yang dilakukan orang-orang Salaf dan mereka sebut sebagai shalat Khoir. Mereka berkumpul untuk menunaikannya. Mungkin mereka menunaikannya secara berjama'ah". (Ihya ‘Ulumiddin I:203)

Tidak diragukan lagi, secara umum keseluruhan bulan Sya'ban termasuk bulan yang utama, yang sampai-sampai ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan:

وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ.

"Dan aku tidak pernah melihat suatu bulan yang beliau banyak berpuasa padanya, kecuali pada (bulan) Sya'ban“. [HSR. Bukhari 1969 Muslim 1156]

Hadits shahih ini secara jelas menunjukkan ada prioritas utama menjalankan ibadah di bulan sya'ban secara umum, termasuk memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban. Namun wajib diperhatikan, hadits di atas tidak menyebutkan tanggal khusus untuk puasa bulan Sya'ban, namun hanya bercerita keutamaan secara umum di bulan Sya'ban tanggal berapapun.

Demikian pula hadits berikut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّ اللهَ تبارَك وتعالَى ينزلُ ليلةَ النصفِ من شعبانَ إلى سماءِ الدنيا فيغفرُ لأكثرَ من شَعْرِ غنمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nishfu. Lantas Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba milik Bani Kalb." [HR. Tirmidzi 739, Ibnu Majah 1389 dan lain-lain]

Sebenarnya hadits di atas masih dipersoalkan para Ulama  tentang keshahihannya, namun Syaikh Al-Albani rahimahullah menshahihkan hadits tersebut karena banyaknya jalan periwayatannya, di mana ada 8 Shahabat yang meriwayatkan hadits itu, sehingga dinilai oleh beliau rahimahullah saling menguatkan  dan dinilai shahih. (Lihat lebih lengkap penejelasan beliau dalam as Shahihah 1144)

Jikapun hadits di atas ditakdirkan shahih -dan Insya Allah memang shahih-, tetap saja hadits di atas tidak ada sedikitpun berisi melakukan ritual khusus pada malam tersebut, baik berupa dzikir tertentu, membaca surat atau ayat Qur'an tertentu, maupun shalat khusus tertentu.

Ini sama saja seperti hadits shahih berikut:

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إلى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرُ يقولُ: مَن يَدْعُونِي، فأسْتَجِيبَ له مَن يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَن يَسْتَغْفِرُنِي فأغْفِرَ له.

”Rabb kami Tabaaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia setiap malam ketiga, sepertiga malam yang terakhir, seraya berfirma": ’Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mengabulkan doanya. Dan barangsiapa yang meminta, maka aku akan memberinya. Dan barangsiapa yang meminta ampunan dari-Ku, maka Aku akan mengampuninya”. [HSR. Bukhari 1094 dan Muslim 758]

Walau hadits di atas jelas menunjukkan adanya keutamaan di setiap sepertiga malam yang terakhir, bukan jadi dalil, orang boleh menetapkan ritual khusus di sepertiga malam terakhir itu dengan sesuatu yang tidak ditetapkan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan tidak pula diamalkan para Shahabat radhiallahu 'anhum.

Andai ada orang yang dengan hadits itu lalu menetap setiap sepertiga malam yang terakhir dianjurkan membaca Yasin, atau dzikir tertentu, maka ini semua jadilah bid'ah karena kebanyakan bid'ah bersumber dari mengkhususkan amalan tertentu dari dalil yang sebanarnya masih mutlaq.

Demikian adanya hadits yang disebutkan sebelumnya, yakni:

إنَّ اللهَ تبارَك وتعالَى ينزلُ ليلةَ النصفِ من شعبانَ إلى سماءِ الدنيا فيغفرُ لأكثرَ من شَعْرِ غنمِ كَلْبٍ

“Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nishfu Sya'ban, lantas Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba milik Bani Kalb".

Maka, ini bukan berarti bolehnya menetapkan ritual ibadah khusus yang spesifik.

Tanggapan Atas Pendapat Imam Ghazali Yang Menyunnahkan Shalat Khusus Pada Malam Nishfu Sya'ban


Di atas, ana juga telah mengutip perkataan Imam Ghazali rahimahullah yang berpendapat disunnahkannya shalat khusus malam Nishfu Sya'ban bahkan lengkap dengan kaifiyatnya.

Yang menjadi pertanyaan, adakah dalil yang menjadi landasan Imam Ghazali rahimahullah yang menyunnahkan hal itu, dan kalau ada, shahih atau tidak ?

Agaknya inilah dalil yang menjadi alasan beliau rahimahullah menyunnahkan shalat khusus malam Nishfu Sya’ban:

أنَّ مَنْ صلَّى هذه الصلاةَ في هذه الليلةِ نظرَ اللهُ إليهِ سبعينَ نظرةً وقضَى لهُ بكلِّ نظرةٍ سبعينَ حاجةً أدناها المغفرَةُ

"Sungguh orang yang menjalankan shalat ini pada malam ini (Nishfu Sya'ban), maka Allah akan memandangnya sebanyak tujuh puluh kali dan setiap pandangan Dia akan memenuhi tujuh puluh kebutuhan. Sekurang-kurangnya kebutuhan adalah ampunan”. (Ihyaa’ Ulumud Diin I:203)

Hadits di atas adalah hadits bathil. Hal ini dinyatakan secara tegas oleh pentahqiq kitab tersebut, yakni Al-Hafizh Al-Iroqi rahimahullah, sebagaimana terdapat dalam Takhrihnya atas Ihyaa ‘Ulumud Diin I:273.

Bukan hanya Al Hafizh Al Iroqa rahimahullah saja yang menyatakan bathil dan palsunya riwayat tersebut, dan bahka dengan tegas dikatakan bid'ahnya amalam tersebut. Bahkan ini dikatakan oleh Ulama haditz dari Madzhab Syafi'i itu sendiri.

Ini buktinya, Imam Nawawi rahimahullah saat membahas beberapa bid'ah yang terkait dengan ini, maka diantaranya berkata:

الصَّلَاةُ الْمَعْرُوفَةُ بصلاة الرغائب وهي ثنتى عَشْرَةَ رَكْعَةً تُصَلَّى بَيْنَ الْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ لَيْلَةَ أَوَّلِ جُمُعَةٍ فِي رَجَبٍ وَصَلَاةُ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ مِائَةُ رَكْعَةٍ وَهَاتَانِ الصَّلَاتَانِ بِدْعَتَانِ وَمُنْكَرَانِ قَبِيحَتَانِ وَلَا يُغْتَرُّ بِذَكَرِهِمَا فِي كِتَابِ قُوتِ الْقُلُوبِ وَإِحْيَاءِ عُلُومِ الدِّينِ وَلَا بِالْحَدِيثِ الْمَذْكُورِ فِيهِمَا فَإِنَّ كُلَّ ذَلِكَ بَاطِلٌ

“Shalat yang dikenal dengan shalat Raghaaib yaitu shalat 12 raka’at dilakukan antara Maghrib dan Isya dimalam Jum’at pertama dibulan Rajab, dan juga shalat dimalam Nishfu Sya’ban sebanyak 100 raka’at (shalat Alfiyyah), maka kedua shalat ini adalah bid’ah yang munkar lagi buruk, jangan tertipu dengan disebutkannya kedua shalat ini di kitab Qutul Qulub dan kitab Ihya Ulumuddin, jangan pula tertipu kalau kedua shalat ini ada haditsnya karena semua hadits-hadits tersebut adalah batil” (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab, An Nawawi 3/506, lihat juga Al Baa’its, Ibnu Syaamah, hal. 124-138)

Ibnu Dihyah rahimahullah bahkan dengan bahasa yang sangat tajam berkata tentang hadits terkait ibadah sunnah khusus malam Nishfu Sya’ban ini:

لم يصح في ليلة نصف من شعبان شيء ولا نطق بالصلاة فيها ذو صدق من الرواة وما أحدثه إلا متلاعب بالشريعة المحمدية راغب في زي المجوسية

“Tidak terdapat satupun riwayat yang shahih terkait malam Nishfu Sya'ban. Para perawi yang jujur tidak meriwayatkan adanya shalat khusus di malam ini. Sementara yang terjadi di masyarakat berasal dari mereka yang suka mempermainkan syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masih menyukai kebiasaan orang Majusi". (Asnal Matholib lI:84)

Syaikh Bin Baaz rahimahullah juga memastikan, semua hadits terkait keutamaan shalat khusus malam Nishfu Sya'ban adalah palsu". (at Tahdzir Minal Bida hal.11)

Tanggapan Atas Sebagian Ulama Lain Yang Menekankan Disukainya Amalan Khusus Pada Malam Nishfu Sya'ban


Adapun terkait beberapa Ulama yang memang berpendapat memilih disukainya amalan khusus pada malam Nishfu Sya’ban, seperti pendapat Imam Al Auza’i rahimahullah dan bahkan didukung oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah, maka Syaikh Bin Baaz rahimahullah dengan nada keheranan berkata:

وأما ما اختاره الأوزاعي -رحمه الله- من استحباب قيامها للأفراد ، واختيار الحافظ ابن رجب لهذا القول فهو غريب وضعيف،لأن كل شيء لم يثبت بالأدلة الشرعية كونه مشروعاً لم يجز للمسلم أن يحدثه في دين الله، سواء فعله مفرداً أو في جماعة ، وسواء أسره أو أعلنه لعموم قوله صلى الله عليه وسلم: (من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد) . وغيره من الأدلة الدالة على إنكار البدع والتحذير منها

”Adapun pendapat yang dipilih oleh Al Auza'i -rahimahullah- tentang disunnahkannya shalat malam pada malam Nishfu Sya'ban, dan hal ini di dukung pula oleh Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah, maka hal ini amatlah aneh dan lemah, karena segala sesuatu yang tidak ditetapkan oleh dalil syar’i untuk disyari’atkan, maka semestinya tidak diperkenankan bagi seorangpun untuk mentaatinya sebagai bagian dari agama. Walaupun dikerjakan secara individual atau berjamaah, baik dirahasiakan atau diumumkan kepada orang banyak. Hal ini sesuai dengan makna umum dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Barangsiapa yang mengerjakan satu amalan yang bukan berasal perintah kami, maka ia tertolak”. Dan yang lainnya dari dalil-dalil yang menunjukan pengingkaran bid’ah dan menyuruhnya agar berhati-hati darinya”. (at Tahdzir minal Bida’ hal.13)

Kesimpulannya, memang ada nash shahih yang umum yang menunjukkan keutamaan bulan Sya'ban, seperti puasa di bulan Sya'ban tanpa menetapkan hari atau tanggal tertentu.

Ya, ada juga hadits shahih yang menunjukkan salah satu kemulian yang terjadi pada malam Nishfu Sya’ban. Namun itu bukan menunjukkan bolehnya melakukan ritual khusus malam Nishfu Sya'ban, semisal membaca ayat Kursi, Yasin atau apapun, termasuk shalat sunnah khusus malam Nishfu Sya'ban, baik dilakukan sendiri mauoun berjamaah, kesemuanya adalah bid'ah dan munkar.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🔰 Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Tidak Ada Amalan Khusus Pada Malam Nishfu Sya'ban"