Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesyirikan Dalam Sumpah Pramuka Tri Satya

 



Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Dalam sumpah pramuka Tri Satya, redaksi awal sumpahnya, "Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh..." Pada awal kata sumpah ini terdapat sesuatu yang bisa merusak aqidah. Bersumpah dengan kehormatan diri, yakni "Demi kehormatanku" ini adalah kesyirikan.

Syirik semacam ini bisa syirik kecil jika dalam sumpahnya itu tidak dimaksudkan sebagai pengagungan dirinya sendiri sebagaimana pengagungan kepada Allah dan bisa syirik besar jika disertai unsur pentazhiman atas dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana telah dielaskan banyak Ulama, diantaranya bisa dilihat pada Faidhul Qadir VI:120, Rawdhatuh Thalibin XI:6, Fatawa Nur ‘Ala Darb Li Syaikh bin Baaz IV:72, dan lain-lain.

Hal ini dikarenakan sumpah itu termasuk jenis ibadah yang hanya boleh ditujukkan kepada Allah. Dalam Kitab Badaa’i-‘ush Shana’i disebutkan:

واليمين عبادة من العبادات التي لا يجوز صرفها لغيره الله

"Dan sumpah itu termasuk ibadah dari sekian jenis banyak peribadatan yang tidak boleh dipalingkan selain kepada Allah". (Badaa’i-‘ush Shana’I III:2)

Makanya tahukah kita, bersumpah demi kehormatan Ka'bah adalah haram,bapalagi bersumpah dengan kehormatan diri sendiri. Agar hal ini jelas ana akan sebutkan beberapa dalil yang menunjukkan haramnya bersumpah selain dengan nama Allah, apalagi bersumpah dengan "Demi kehormatan diri sendiri".

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

"Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah melakukan kesyirikan". [HR. Abu Dawud 3251, Turmudzi 1535. Kata Syaikh bin Baaz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya III:144, shahih. Kata Al Albani rahimahullah dalam Al Irwa’ 2561, shahih]

Hadits diatas menunjukkan kufur dan syiriknyabbersumpah dengan apapun selain nama Allah. Dan pengertia selain Allah itu mencakup sumpah atas nama Malaikat, para Nabi atau Rasul alaihis shalawatu wa sallam, Ka'bah atau apapun dan siapapun makhluk Allah.

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Jibrin rahimahullah saat menerangkan hadits larangan bersumpah selain nama Allah, maka beliau mengatakan:

وهو يعم الحلف بالأنبياء والملائكة والصالحين وسائر المخلوقات

"Dan ini umum mencakup sumpah atas nama para Nabi, Malaika, orang shalih dan seluruh makhluk lainnya". (Al-Lu’lu Al-Makiin min Fatawa Ibnu Jibrin hal.32)

Apalagi bersumpah dengan kehormatan diri kita. Yang menunjukkan bahwa pengertian selain Allah itu mencakup apapun, siapapun dan betapapun yang dianggap tinggi derajatnya selain Allah adalah sangat jelas jika kita melihat kelengkapan hadits yang ana sebutkan diatas.

Hadits diatas selengkapnya bersumber dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Lengkapnya sebagai berikut:

أنَّ عبدَ اللهِ بنَ عُمرَ رضيَ اللهُ عنهما سمِعَ رجلًا يَحلِفُ بـقولِه: لا والكعبةِ، فقالَ له ابنُ عمرَ، إنِّي سَمِعتُ رَسولَ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يَقولُ: مَن حَلَفَ بغَيرِ اللهِ فقد أَشرَكَ

"Sesungguhnya Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma pernah mendengar seorang lelaki yang bersumpah dengan berkata, demi Ka'bah". Maka, segerah Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Barangsiapa yang bersumpah dengan selain nama Allah, maka dia telah melakukan kesyirikan".

Semua kaum muslimin tentu telah sepakat bahwasanya Ka'bah memang tidak diragukan lagi kehormatannya, namun sekalipun begitu terhormat, tetap saja saat dijadikan sebagai sumpah, maka hal ini haram dan berakibat pada kesyirikan dan kekufuran. Jika kehormatan Ka'bah saja tidak boleh dijadikan sumpah, maka apakah kamu merasa kehormatanmu lebih agung daripada Ka'bah. 

Tidak cukup di situ, kita tentu telah tahu juga hadits yang menunjukkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersumpah dengan demi amanat, sebagaimana sabdanya:

مَنْ حَلَفَ بِالأَمَانَةِ فَلَيْسَ مِنَّا

"Barangsiapa yang bersumpah demi amanah, maka dia bukanlah dari golonganku". [HR. Abu Dawud 3253. Kata Al-Albani rahimahullah dalam Shahih Abi Dawud 3253, shahih]

Terdapat pula larangan sumpah lainnya selain nama Allah yang haditsnya banyak dan shahih, yang jika ana tulis semua akan sangat panjang. Maka, intinya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun hanya membolehkan seseorang bersumpah dengan nama Allah atau kalau tidak bisa demikian, maka diamlah. Hal ini sebagaimana sabda beliau:

من كان حالفاً فليحلف بالله أو ليصمت

"Barangsiapa yang bersumpah, hendaklah bersumpah dengan nama Allah atau hendaklah diam". [HSR. Bukhari 6646]

Sebagai penutup masalah ini, kami kutipkan perkataan Imam Asy-Syaukani rahimahullah terkait hal sumpah atas nama selain Allah sebagai berikut:

قال العلماء: السر في النهي عن الحلف بغير الله أن الحلف بالشيء يقتضي تعظيمه، والعظمة في الحقيقة إنما هي لله وحده، فلا يحلف إلا بالله وذاته وصفاته، وعلى ذلك اتفق الفقهاء

"Para Ulama menyatakan rahasia di balik larangan bersumpah dengan selain Allah adalah karena bersumpah dengan sesuatu itu menunjukkan pengagungan dengan suatu yang disebutkan. Padahal keagungan yang hakiki adalah hanya milik Allah semata. Oleh karena itu tidak boleh bersumpah kecuali dengan Allah, zat dan sifat-Nya. Ini merupakan kesepakatan semua ahli fiqh". (Nailul Authar VIII:262)

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

_______
Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

Group WhatsApp: wa.me/6289665842579

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

5 komentar untuk "Kesyirikan Dalam Sumpah Pramuka Tri Satya"

  1. Kaum Muslimin kebanyakan tidak lagi mengenal hukum2 sumpah karena jauhnya dari menuntut ilmu. Ada yg menciptakan syair/puisi/lagu/nyayian berisikan sumpah atas nama langit dan bumi dan nama makhluk lainnya. Semoga kita semua diberi petunjuk, aamiin....

    BalasHapus
  2. cocologi anjir. sumpah sama janji berbeda. bahkan isi trisatya tidak ada yg menyekutukan allah. sila pertama justru berjanji menjalankan kewajiban Tuhan yme . haduh salaaf salaf tekstual mulu

    BalasHapus
  3. Bismillah
    Ustadz Afwan sepengetahuan saya kata "demi" dalam bahasa indonesia punya 4 makna
    1. Demi yang maknanya "untuk"
    2. Demi yang maknanya "lepas"
    3. Demi yang maknanya "tatkala"
    4. Demi yang maknanya "sumpah"
    5. Demi yang maknanya "sebagai"

    Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh:
    Mnjalankan kewajibanku kepada Tuhan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengamalkan Pancasila;
    Menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat;
    Menepati Dasadarma

    Saya pun bermanhaj salaf ustadz, saya juga nggak terlalu suka pramuka. Namun dalam hal ini menurut saya boleh saja mengucap trisatya.

    BalasHapus
  4. Dasar wahhabi 😂. Emang suka menyalahkan dah wkwk

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak