Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Aqidah Al-Wasithiyah (Bagian 12)




Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al-Atsary hafidzhahullah

Kita masih membahas tentang aqidah Asma' wa Shifat. Kita telah menjabarkan aqidah Asma' dan Shifat dan menunjukkan juga aqidah-aqidah yang menyelisihinya. Diantara aqidah yang menyelisihi aqidah Salaf adalah aqidah tafwidh (التفويض).

Apa itu tafwidh ? Yakni menyerahkan makna (Asma dan Shifat) kepada Allah. Aqidah ini adalah aqidah yang buruk. Kenapa kita membahas hal ini ?

Jawab:

1) Aqidah tafwidh adalah aqidah yang buruk.

Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah berkata: "Orang-orang yang beraqidah tafwidh dikatakan oleh Imam Ahmad lebih buruk dari kaum Jahmiyah". (Fatwa Nur ala Darb/65)

2) Aqidah ini diikuti oleh orang-orang pergerakan semacam Ikhwanul Muslimin, yang mereka mengklaim bahwa aqidah mereka Salafy, sebagaimana ucapan pemimpinnya Hasan Al-Banna:

و تستطيع أن تقول و لا حرج عليك إن الإخوان المسلمين دعوة سلفية...

"Dan Anda bisa katakan tanpa ragu, bahwa dakwah Ikhwanul Muslimin adalah dakwah Salafiyyah...". (Lihat Majmu Risalah Hasan Al-Banna, bab Muktamar ke-5)

Mereka para harakiyyun juga mengklaim bahwa mereka juga Salafy, padahal aqidah mereka bukan aqidah Salaf, namun beraqidah tafwidh. Hal ini adalah pengaburan.

3) Para pengusung aqidah tafwidh ini beranggapan mereka ingin mendamaikan (baca : sok bijak) antara sesama (???) Ahlus Sunnah. Antara ahli takwil (menakwil semacam Asy'ariyah dan Mu'tazilah) dengan ahli isbat (yang menetapkan Asma' dan Shifat). Mereka mendasarkan pada ucapan Imam Suyuti (yang terpengaruh Asy'ariyah) bahwa Jumhur Ulama dari kalangan Salafy dan ahli hadits mengikuti madzhab tafwidh. (Itqon Fi Ulumi Qur'an 2/10)

Aqidah tafwidh adalah keyakinan untuk menetapkan lafadz tanpa mau mengetahui maknanya (yakni mereka meyakini sikap untuk diam, tidak membicarakan, tidak menakwilkan, dan tidak menterjemahkan/menafsirkan Asma dan Shifat Allah).

Jadi kalangan ahli tafwidh bila umpama dikatakan kepada mereka makna Istiwa':

الرحمن على العرش استوى

"Ar-Rahman (Allah) beristiwa di atas Arsy".

Maka mereka akan berkata: "Saya tidak tau makna Istiwa, Allahu A'lam !!!". Terlihat bijak, namun hal ini adalah termasuk penyimpangan dalam memahami aqidah Asma' dan Shifat.

Lalu bagaimana dan apa sisi penyimpangan aqidah tafwidh ini dengan aqidah yang benar ?

Maka, mari kita renungkan penjelasan Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan hafidzahullah: "Kaum Salaf, aqidah mereka bukan tafwidh, akan tetapi mereka dalam Asma' dan Shifat, beriman kepada nash (lafadz) sebagaimana adanya, serta menetapkan makna yang terkandung di dalamnya secara hakikat sebagaimana ditetapkan secara bahasa dengan ketentuan menafikkan keserupaan (Asma' dan Shifat Allah) dengan makhluk. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

ليس كمثله شيئ و هو السميع البصير

"Tiada yang serupa dengan-Nya, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat". (QS. As-Syura: 11). (Muntaqo Min Fatawa 1/25)

Inilah aqidah Salaf Ahlus Sunnah wal Jama'ah, bahwa mereka beriman dengan menetapkan sifat-sifat dan nama-nama Allah Subhanahu wa Ta'ala sesuai keagungan-Nya, beriman pada lafadz dan nash, beriman pada maknanya tanpa menyerupakan Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan makhluk, tidak memperdebatkannya, dan baru menyerahkan hakikatnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Bila seorang Ahlus Sunnah ditanya tentang Istiwa (الاستواء), maka ia akan menjawab, kami mengimani lafadz Istiwa, maknanya secara bahasa, dan menyerahkan hakikat bagaimana Istiwa itu kepada Allah, karena Allah tidak menerangkan bagaimana Dia beristiwa, dan kami beriman kepada Allah sesuai keagungan-Nya, Dia tidak serupa dengan makhluk-Nya.

Imam Malik rahimahullah ditanya tentang Istiwa, beliau menjawab:

الاستواء معلوم و الكيف مجهول و الايمان به واجب و السؤال عنه بدعة.

"Istiwa itu sudah dimaklumi maknanya, sedang kaifiyahnya itu tidak diketahui (hanya Allah yang mengetahui), beriman padanya wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah". (Syarah Itiqad Ahli Sunnah 3/441)

Demikianlah aqidah kita, sederhana, kokoh, tidak berlebihan dan tidak menyepelekan. Mereka tidak sok pintar dengan menta'wil apa yang mereka tidak memiliki ilmu didalamnya, atau mereka bersikap mengingkarinya. Juga tidak sok diam dari kewajiban mereka untuk mengimani lafadz sekaligus makna-makna nas Al-Qur'an dan Hadits tentang nama dan sifat Allah. Namun mengembalikan keimanan itu sebagaimana Shahabat mengimani Asma' dan Shifat Allah itu.

Akibat buruk yang muncul dari aqidah tafwidh ini:

1) Ia bukan aqidah Salaf bahkan ia bertentangan dengan aqidah Salaf. Namun sebagian orang menuding aqidah Salaf adalah tafwidh.

2) Bijak bukan pada tempatnya, ingin mendamaikan antara pengikut aqidah Salaf dengan pengikut aqidah Asy'ariyah. Namun malah terjerumus pada penyimpangan dengan tidak mengimani makna dari nash Al-Qur'an dan Sunnah seputar aqidah Asma' dan Shifat.

3) Goncangnya mereka dalam dakwah, tidak pernah kokoh, mengikuti arus yang menguntungkan, dan selalu mencari posisi aman dan sok bijak yang tujuannya adalah merangkul sebanyak mungkin pengikut tanpa memperhatikan aqidah mereka.

Inilah ucapan Hasan Al-Banna:

...لهذا الدين أن يبقى و يخلد و يساير العصور و يماشي الازمان و هو لهذا سهل مرن هين لين لا جمود فيه و لا تشديد

"Karenanya agama ini akan abadi dan lestari sejalan mengikuti masa dan sejalan mengikuti jaman, karenanya agama ini mudah, fleksibel, ringan, tidak jumud dan tidak ekstrem". (Majmu Risalah Hasan Al-Banna, lihat Dakwatuna hal.51)

Ada beberapa kalimat yang janggal oleh kita, fleksibel, bisa dimaknai positif atau negatif. Jadi dakwah mereka lentur bak karet yang bisa dibawa kemana sesuai kebutuhan. Inilah kenyataannya selama ini, atas dasar inilah muncul slogan mereka. Tidak Timur, tidak Barat, tidak Sunni tidak Syi'ah, asal Islam. Nasalullaaha salama wal afiah.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🔰 Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Aqidah Al-Wasithiyah (Bagian 12)"