Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyikat Gigi Saat Puasa



Oleh Ustadz Berik Said hafizhahullah

Ada banyak orang yang masih bingung tentang hukum orang yang sedang berpuasa menyikat gigi dengan pasta gigi semacam odol dan sebagainya dan terkadang akan sedikit tertelan rasa odolnya itu. Apakah ini membatalkan puasanya ?

Tidak diragukan lagi, bahwa bersiwak adalah sunnah yang amat ditekankan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teristimewa setiap kali akan shalat. Dan tidak dibedakan apakah itu dilakukan saat sedang tidak berpuasa maupun saat sedang berpuasa.

Pertama, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa:

لَوْلا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاةٍ

“Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak shalat". [HR. Bukhari 887 dan Muslim 552]

Imam Bukhri rahimahullah dengan berdalil hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu di atas, maka dalam Kitab Shahihnya beliau membuat sub judul berikut:

بَاب سِوَاكِ الرَّطْبِ وَالْيَابِسِ لِلصَّائِمِ

“Bab (bolehnya) siwak basah maupun siwak kering bagi orang yang sedang berpuasa". (Fathul Baari IV:187)

Al Hafizh rahimahullah seorang kritikus hadits terbesar Madzhab Syafi'i, setelah menukilkan sub judul yang dibuat oleh Imam Bukhari rahimahullah di atas, maka beliau memberikan penjelasan sebagai berikut:

أَشَارَ بِهَذِهِ التَّرْجَمَةِ إِلَى الرَّدِّ عَلَى مَنْ كَرِهَ لِلصَّائِمِ الاسْتِيَاكَ بِالسِّوَاكِ الرَّطْبِ…

"Dalam sub judul tersebut ini mengisyaratkan sanggahan atas orang yang berpendapat dimakruhkannya bagi orang yang sedang puasa memakai siwak basah (semisal pasta gigi -pent)". (Fathul Baari IV:187)

Kedua, Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak itu dapat membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah". [HR. Nasa’i 5, Ibnu Khuzaimah 135, Ibnu Hibban 1067, Bukhari juga meriwayatkannya secara mu’allaq (tanpa penyertaan sanad) dengan lafazh pemastian pada Shahih Bukharinya sebelum mencantumkan nomor hadits 1934]

Kata Al-Baghawi rahimahullah dalam Syarhus Sunnah I:294, Hasan. Kata Al-Mundziri dalam At-Targib wa Tarhib I:133, Shahih. Kata Imam Nawawi rahimahullah dalam Al-Khulashoh I:184, Hasan. Kata Al-Albani rahimahullah dalam Shahih At-Targhib 209, Shahih.

Dua hadits di atas menunjukkan disukainya siwak dan tanpa membedakan apakah saat puasa atau tidak berpuasa. Bahkan sebelumnya ana telah tulis bagiamana justru Imam Bukhari rahimahullah memasukkan hadits bersiwak itu dalam bab bolehnya orang yang sedang berpuasa bersiwak dengan pasta gigi yang basah.

Maka barangsiapa menganggap hadits tentang disukainya siwak, hanya disukai saat tidak dalam keadaan puasa apalagi membatalkannya, maka wajib baginya mendatangkan dalil.

Ketiga, terdapat atsar dari Shahabat senior Mu'adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu yang sangat gamblang. Perhatikan riwayat berikut:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ غَنِمٍ قَالَ: سَأَلْتُ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ: آتَسَوَّكُ وَأَنَا صَائِمٌ ؟ قَالَ: نَعَمْ، قُلْتُ: أَيُّ النَّهَارِ ؟ قَالَ: غُدْوَةً أَوْ عَشِيَّةً. قُلْتُ: إِنَّ النَّاسَ يَكْرَهُوْنَ عَشِيَّةً وَ يَقُوْلُوْنَ إِنَّ رَسُلَ اللهِ قَالَ : لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسكِ ؟ قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ لَقَدْ أَمَرَهُمْ بِالسِّوَاكِ، وَ مَا كَانَ بِالَّذِيْ يَأْمُرُهُمْ أَنْ يُنَتِّنُوْا أَفْوَاهَهُمْ عَمْدًا، مَا فِيْ ذَالِكَ مِنَ الْخَيْرِ شَيْءٌ بَلْ فِيْهِ شَرٌّ.

Dari ‘Abdur Rahman bin Ghanam rahimahullah berkata: Aku bertanya kepada Mu’adz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu: "Apakah aku bersiwak padahal aku berpuasa ?” Beliau menjawab: ”Ya”. Aku berkata: “Di siang hari kapan?” Beliau berkata: ”Di waktu pagi dan sore”. Aku berkata: ”Orang-orang membenci (bersiwak) pada sore hari". Dan mereka berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Bau mulutnya orang yang berpuasa sungguh lebih baik di sisi Allah daripada bau misik”. Beliau berkata: "Maha Suci Allah ! Rasulullah sungguh telah memerintahkan mereka untuk bersiwak dan tidaklah layak (bagi mereka) atas apa yang telah perintahkan oleh Rasulullah, mereka sengaja membuat mulut mereka menjadi berbau busuk. Tidak ada pada perbuatan mereka itu kebaikan sedikitpun, bahkan kejelekan yang ada pada perbuatan mereka itu". [Berkata Al-Hafiz dalam Talkhis hal 113, Sanadnya baik. Irwa’ul Ghalil I:106]

Keempat, pendapat mayoritas Ulama dari berbagai Madzhab juga menyatakan disunnahkannya orang yang puasa untuk tetap bersiwak.

Pendapat Para Ulama Dari Beberapa Madzhab Tentang Tidak Batalnya Bersiwak Saat Puasa


Ini adalah pendapat dari Madzhab Hanafi (Al-Bahrur Ra’iq II:302), Imam Syafi'i rahimahullah juga dikabarkan punya pendapat seperti ini (Al-Majmu’ VI:377), salah satu riwayat yang datang dari Imam Ahmad rahimahullah (Al-Furu’ I:145), Ibnul Mundzir rahimahullah mengatakan bahwa pendapat yang menyatakan tidak batalnya siwak bagi orang yang berpuasa diriwayatkan juga dari Umar bin Khathab, Ibnu Abbas, Aisyah radhiallahu ‘anhum dan sejumlah Ulama senior tabi'in semisal An-Nakha'i, Ibnu Sirin, Urwah bin Zubair, dan lain-lain rahimahumullah ‘alaihim. (Al Isyraf III:134)

Ini juga pendapat dari Ibnu Taimiyyah (Al-Ikhtiyarat Al-Fiqhiyyah hal.10), Ibnul Qayyim (Zadul Ma’ad II:63), As Syaukani (Nailul Authar I:105), Syaikh bin Baaz (Majmu’ Fatawa bin Baaz XV:261) dan Syaikh Al-Utsaimin (As-Syarhul Mumti’ I:151), Syaikh Al-Albani rahimahumullah dalam Irwaa’ul Ghalil I:106.

Syaikh Ibn Baz rahimahullah ditanya: Apa hukum menggunakan pasta gigi bagi orang yang berpuasa ?

Beliau menjawab: "Menyikat gigi dengan pasta gigi tidak membatalkan puasa, sebagaimana halnya dengan siwak. Namun demikian, orang yang berpuasa mesti berhati-hati agar tidak ada yang tertelan ke dalam perutnya. Jika ada yang tertelan tanpa sengaja, maka hal itu tidak membatalkan puasanya". (Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibn Baz 15/260)

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengatakan:

الصواب أن التسوك للصائم سنة في أول النهار وفي آخره

"Yang benar bersiwak bagi orang yang sedang puasa adalah sunnah baik dilakukan di permulaan siang (pagi) maupun di akhirnya". (Fatawa Arkanul Islam hal.468)

Kalau alasan, ada rasa pada pasta giginya, maka dapat dijawab, terkadang saat wudhu kita menggunakan air wudhu yang terasa asin, maka apakah karena air wudhunya ada rasa asin jadi batal ? tentu tidak selagi tidak sengeja menelannya.

Kesimpulannya, Boleh bahkan tetap disunnahkan bagi orang yang sedang puasa untuk bersiwak walaupun dengan siwak yang basah. Boleh pula pakai pasta yang berasa pedas dan sebagainya, usahakan semaksimal mungkin untuk tidak menelan pasta itu, adapaun yang tidak sengaja tertelan terbawa air ludah maka tidak mengapa, dan tidak membalkan puasanya.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🔰 Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Menyikat Gigi Saat Puasa"