Jalan Golongan Yang Selamat (Bagian 17)




Cara Menghilangkan Syirik


Menghilangkan syirik kepada Allah, belum akan sempurna kecuali dengan menghilangkan tiga macam syirik:

1. Syirik dalam Perbuatan Tuhan.

Yaitu beritikad bahwa di samping Allah terdapat pencipta dan pengatur yang lain. Sebagaimana yang diyakini sebagian orang-orang Shufi, bahwa Allah menyerahkan sebagian urusan kepada beberapa wali-Nya untuk mengaturnya. Keyakinan seperti ini belum pernah dianut oleh kaum musyrikin sebelum Islam. Bahkan ketika Al-Quran menanyakan siapa yang mengatur segala urusan, mereka menjawab: "Allah".

Seperti ditegaskan dalam firman-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَ ۗ فَسَيَـقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚ

"Dan siapakah yang mengatur segala urusan ? Maka mereka akan menjawab, Allah". (QS. Yunus: 31)

Penulis pernah membaca kitab, "Al-Kafi Firrad alal Wahabi" yang pengarangnya seorang Shufi. Di situ disebutkan, "Sesungguhnya Allah memiliki beberapa hamba yang bila mereka mengatakan kepada sesuatu, Jadilah! Maka terjadilah ia".

Sungguh dengan tegas Al-Quran mendustakan apa yang ia nyatakan itu. Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّمَاۤ اَمْرُهٗۤ اِذَاۤ اَرَادَ شَیْئًـا اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

"Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu". (QS. Yasin: 82)

Allah Ta’ala berfirman:

اَلَا لَـهُ الْخَـلْقُ وَا لْاَمْرُ ۗ

"Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak Allah". (QS. Al-A’raf: 54)

2. Syirik dalam Ibadah dan Doa.

Yaitu di samping ia beribadah dan berdoa kepada Allah, ia beribadah dan berdoa pula kepada para Nabi dan orang-orang shalih. Seperti istighatsah (meminta pertolongan) kepada mereka, berdoa kepada mereka di saat kesempitan atau kelapangan. Ironinya, justru hal ini banyak kita jumpai di kalangan umat Islam. Tentu, yang menanggung dosa terbesarnya adalah sebagian Syaikh (guru) yang mendukung perbuatan syirik ini dengan dalih tawassul.

Mereka menamakan perbuatan tersebut dengan selain nama yang sebenarnya. Karena tawassul adalah memohon kepada Allah dengan perantara yang disyariatkan. Adapun apa yang mereka lakukan adalah memohon kepada selain Allah. Seperti ucapan mereka:

المدد يا رسول االله، يا جيلاني يا بدوي…

"Tolonglah kami wahai Rasulullah, wahai Jaelani, wahai Badawi…"

Permohonan seperti di atas adalah ibadah kepada selain Allah, sebab ia merupakan doa (permohonan). Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةِ

"Doa adalah ibadah". (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hadits hasan shahih)

Di samping itu pertolongan tidak boleh dimohonkan kecuali kepada Allah semata. Allah Ta’ala berfirman:

وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَ مْوَا لٍ وَّبَنِيْنَ

"Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu". (QS. Nuh: 12)

Termasuk syirik dalam ibadah adalah Syirik Hakimiyah, yaitu jika sang hakim, penguasa atau rakyat meyakini bahwa hukum Allah tidak sesuai lagi untuk diterapkan, atau dia membolehkan diberlakukannya hukum selain hukum Allah.

3. Syirik dalam Sifat.

Yaitu dengan menyifati sebagian makhluk Allah, baik para Nabi, Wali atau lainnya dengan sifat-sifat yang khusus milik Allah, seperti mengetahui hal-hal yang ghaib. Syirik semacam ini banyak terjadi di kalangan Shufi dan orang-orang yang terpengaruh oleh mereka. Seperti ucapan Bushiri, ketika memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: "Sesungguhnya, di antara kedermawananmu adalah dunia dan kekayaan yang ada di dalamnya. Dan di antara ilmu adalah ilmu Lauhul Mahfudz dan Qalam".

Lauh Mahfudz adalah tempat Allah menuliskan takdir setiap makhluk, sedangkan Al-Qalam adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah yang dengannya Allah menuliskan takdir setiap makhluk di Lauh Mahfudz. Di antara ayat dan hadits yang berbicara tentang Lauh Mahfudz dan Qalam adalah:

Allah Ta'ala berfirman:

بَلْ هُوَ قُرْاٰنٌ مَّجِيْدٌ ۙ فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ

"Bahkan (yang didustakan itu) ialah Al-Quran yang mulia, yang (tersimpan) dalam (tempat) yang terjaga (Lauh Mahfudz)". (QS. Al-Buruj: 21-22)

Allah Ta’ala berfirman:

نٓ ۚ وَا لْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَ

"Nun. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan". (QS. Al-Qalam: 1)

Dari Ubadah bin Shamit, ia berkata aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah Al-Qalam". Kemudian Dia berfirman kepadanya, "Tulislah!". Ia berkata, "Wahai Tuhanku, apa yang aku tulis ?" Dia berfirman, "Tulislah takdir segala sesuatu sehingga datangnya hari kiamat". [HR. Abu Dawud]

Dari sinilah kemudian terjadi kesesatan para Dajjal (pembohong) yang mendakwakan dirinya bisa melihat Rasulullah dalam keadaan jaga. Lalu (menurut pengakuan para Dajjal itu) mereka menanyakan kepada beliau tentang rahasia jiwa orang-orang yang bergaul dengan mereka. Para Dajjal itu ingin menguasai sebagian urusan manusia. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya saja, tidak mengetahui hal-hal yang ghaib tersebut, sebagaimana ditegaskan oleh Al-Quran:

وَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّۤوْءُ

"Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya (kemudharatan)". (QS. Al-A’raf: 188)

Jika semasa hidupnya saja beliau tidak mengetahui hal-hal yang ghaib, bagaimana mungkin beliau bisa mengetahuinya setelah beliau wafat dan berpindah ke haribaan Tuhan Yang Maha Tinggi ? Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar salah seorang budak wanita mengatakan, "Dan di kalangan kita terdapat Nabi yang mengetahui apa yang terjadi besok hari". Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya:

دَعِيْ هٰذَا وَ قُوْلِيْ بِالَّذِي كُنْتِ تَقُوْلِيْنَ

"Tinggalkan (ucapan) ini dan berkatalah dengan yang dahulunya (biasa) engkau ucapkan". [HR. Al-Bukhari]

Kepada para Rasul itu, memang terkadang ditampakkan sebagian masalah-masalah ghaib, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Ta’ala:

عٰلِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلٰى غَيْبِهٖۤ اَحَدًا اِلَّا مَنِ ارْتَضٰى مِنْ رَّسُوْلٍ

"Dia Mengetahui yang ghaib, tetapi Dia tidak memperlihatkan kepada siapa pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya". (QS. Al-Jinn: 26-27)

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Smber: Kitab Minhaj al-Firqah an-Najiyah wa Ath-Tha’ifah al-Manshurah (Jalan Golongan Yang Selamat) Karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zain

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: lhttp://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Belum ada Komentar untuk "Jalan Golongan Yang Selamat (Bagian 17)"

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel