Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membacakan Surah Yasin Pada Orang Yang Akan Meninggal




Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Penjelasan Lemahnya Hadits Terkait Membaca Surah Yasin Di Sisi Orang Yang Akan Meninggal


Memang tidak sedikit Ulama yang menyunnahkan hal ini, dan dalil utamanya adalah hadits berikut:

اقْرَؤُوا عَلَى مَوْتَاكُمْ يس

"Bacakanlah atas orang yang akan mati diantara kamu dengan (surah) Yasin". [HR. Abu Dawud no.3121, Ibnu Majah no.1448, Ahmad no.20.316, Ibnu Hibban no.3002, Thabrani dalam Al Kabir 510, dan lain-lain]

Jalur Periwayatan Hadits Di Atas


Hadits di atas kacau dari sisi periwayatan, dikarenakan hadits ini ternyata memiliki empat versi periwayatan berbeda, padahal sumbernya sama.

Pertama, diriwayakan dari Abu Utsman dari bapaknya (bapaknya Abu Utsman -pent), dari Ma'qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam ilmu hadits disebut hadits Marfu', yakni bersambung sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah yang diriwatakan oleh Ibnu Majah no.1448 dan lain-lain.

Kedua, kalau jalur periwayatan pertama itu disebutkan dari Abu Utsman dari ayahnya (yakni ayahnya Abu Utsman). Namun, pada jalur kedua jalur periwayatannya itu tidak disebutkan dari ayahnya. Dari Abu Utsman, dari Ma'qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu (tanpa menyebut dari bapaknya Abu Utsman), dari Ma'qil, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini diantaranya diriwayatkan oleh al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 1464 dan lain-lain.

Ketiga, diriwayakan dari seseorang (tidak disebutkan namanya), dari bapaknya (juga tidak disebutkan siapa bapaknya) itu, dari Ma'qil bin Yasar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini diriwayatkan oleh at Thayalisi 931 dan lain-lain.

Keempat, diriwayatkan dari Ma'qil bin Yasar, tetapi tidak bersambung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tetapi hanya perkataan yang disandarkan pada Ma'qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu. Dalam ilmu hadits ini disebut Mauquf (terhenti pada Shahabat).

Nah kekacauan periwayatan hadits di atas dalam ilmu hadits disebut Idhtirob (goncang), dan hadits yang goncang ini termasuk dha'if atau lemah. Disamping goncangnya periwayatannya dalam hadits di atas juga terdapat kelemahan lainnya, yakni *lAbu Utsman dan ayahnya yang meriwayatkan hadits di atas tidak diketahui identitasnya, siapakah dia ?

Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam Adz Dzahabi rahimahullah dalam Miezanul I’tidaal IV:550, dan juga oleh Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Adzkar hal.132.

Dalam ilmu hadits perawi yang tidak diketahui identitasnya itu disebut majhul. Rawi yang majhul jelas tidak bisa diterima. Karena itulah sejumlah ahli hadits telah melemahkan hadits tersebut baik dengan sebab kacaunya sanadnya maupun kelemahan perawinya tersebut.

Pernyataan Para Ahli Hadits Yang Melemahkan Hadits Di Atas


Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Khulashah II:925 berkata: “Sanadnya lemah, dalam sanadnya ada dua Rawi yang tidak di kenal". Ibnul 'Arabi rahimahullah dalam ‘Aridhatul Ahwaadzi VI:34: "Tidak sah". Ibnul Qaththan rahimahullah dalam Al-Wahmu wal Iiham V:49: "Tidak sah". Syaikh bin Baz rahimahullah dalam Fatawa Nur ‘ala Darb XIV:261: "Dha'if atau lemah". Syaikh Al 'Utsaimin rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa Al 'Utsaimin XVII:74: "Lemah". Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Takhrij Misykaatul Mashabih 1565: "Lemah, Mauquf, dan goncang".

Ali bin Hasan Al Halabi Al Atsari hafidzahullah sampai menyusun buku kecil khusus menyoroti kelemahan hadits ini dengan judul "Al Qoulul Mubin Fi Dha'fi Hadits At Talqin Wa Iqro'u 'Ala Mawtakum Yasin".

Maka, hadits di atas tidak boleh dijadikan sebagai dalil disunnahkannya hal tersebut.

Kalau begitu, apa yang disunnahkan menghadapi orang yang akan wafat ?

Jawabannya adalah hadits shahih berikut, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

"Tuntunlah orang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallah". [HSR. Muslim no.916]

Dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلاَمِهِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

"Barangsiapa yang ucapan terakhirnya adalah Laa ilaaha illallah, maka akan masuk Surga". [HR. Abu Daud no.3116, Ahmad 5:247. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan]

Inilah semestinya yang merupakan sunnah yang shahih, bukan dengan membacakan surah Yasin. Dan membacakan surah Yasin haditsnya lemah, tidak boleh diamalkan, dan mengangggap hal itu sebagai suatu sunnah justru merupakan bid'ah!

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Membacakan Surah Yasin Pada Orang Yang Akan Meninggal"