Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pandangan Tajam Pada Demokrasi





Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al-Atsary hafizhahullah

Berhala Usang Yang Di Ibadati (kenapa kita tidak menerima demokrasi)

Bismillah, beberapa saudara kami yang tercinta mengharap kami menuliskan pandangan Ahlus Sunnah Salafiyyah terhadap demokrasi, yang sebenarnya pandangan Islam telah jelas, bahwa demokrasi adalah sistem kufur, bukan sistem Islam. Bahkan beberapa Ulama Salafy telah menulis tentang bobroknya demokrasi, diantaranya Syaikh Abdul Malik bin Ahmad Ar-Ramadhani Al-Jazairi hafidzahullah dalam kitab beliau Madarikun Nazhar fi Siyasah Baina Tathbiqatisy Syar'iyah wa Infialatil Hamasiyah.

Maka, dalam kesempatan ini juga kami yang fakir dan butuh atas kasih sayang Rabb-Nya ini ingin berkontribusi dalam tulisan yang singkat, ingin membela kehormatan Islam dan menyingkap fakta tentang kebobrokan sistem demokrasi yang di bangun di atas kekufuran dan muncul di zaman Paganisme Yunani yang di paksakan pada kaum muslimin saat ini.

"Untuk mempengaruhi gentiles (rakyat umum) di perlukan ungkapan muluk, halus dan sopan dan juga slogan-slogan yang menggiurkan, kita (Yahudi) memiliki kepastian untuk mengingkari janji-janji dan slogan-slogan indah itu, sehingga menjadi kata indah yang tidak memiliki arti, kita akan membakar semangat publik sampai taraf histeris, dengan mengunakan janji janji kosong". (Protokolat zionisme terbit tahun 1905)

Betapa sama ucapan ini dengan apa yang telah di terangkan Allah Rabbuna Ta'ala tentang misi-misi iblis:

واستفزر من استطعت منهم بصوتك واجلب عليهم بخيلك ورجلك وشاركهم فی الاموال والاولاد وعدهم ۗ وما يعدهم الشيطن الا غرورا

"Dan perdayakanlah siapa saja di antara mereka yang engkau (iblis) sanggup dengan suaramu (yang memukau), kerahkanlah pasukanmu terhadap mereka, yang berkuda dan yang berjalan kaki, dan bersekutulah dengan mereka pada harta dan anak-anak lalu beri janjilah kepada mereka. Padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka". (QS. Al-Isra': 64)

Maka lihatlah, semoga Allah merahmati anda. Dari kata-kata para pengusung demokrasi dari dulu sampai sekarang dari kata indah liberty, fraternity, equality (kebebasan, persaudaraan, persamaan), dengan itu mereka ingin mengganti hukum agama kepada hukum kemanusiaan. (Buku jaringan Yahudi 24)

Selain itu, demokrasi adalah induk dari semua keburukan dari slogan-slogan kotor dan penuh tipuan, humanisme, liberal, pluralisme, sekulerisme dan slogan-slogan menjijikan lainnya. (Buku fremasonry melanda dunia Islam)

Demokrasi bersumber dari hawa nafsu dan kesombongan serta pengingkaran kepada Allah Ta'ala.

"Tidaklah cukup bagi kita hanya mengalahkan para pemeluk agama dan peribadatannya dengan demokrasi, bahkan kita harus memusnahkan mereka". (Kongres yahudi 1911)

Sehingga muncul slogan vox populi vox dei (suara rakyat, suara tuhan), suara terbanyak, sehinga dalam demokrasi suara seorang Ulama setara dengan suara penjahat. Dan melempar jauh-jauh syura' dan urusan di antara mereka (di selesaikan) secara musyawarah di antara mereka

Bagi pengusung demokrasi, demokrasi adalah agama:

ام لهم شركؤا شرعوا لهم من الدين ما لم يأذن نه الله ؟

"Apakah mereka memiliki sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di ijinkan Allah ?". (Qs As Syura: 21)

Syaikh Abdurahman bin Nasir As-Sady rahimahullah, ketika berbicara ayat: "Apa hukum jahiliyah yang mereka cari (kehendaki) ? Yakni apakah dengan mereka berpaling dan menjauhnya darimu (Rasul) karena mereka ingin hukum jahiliyah ? Hukum jahiliyah adalah semua hukum yang bertentangan dengan apa yang di turunkan Allah dan Rasul-Nya, karena pilihannya hanya hukum Allah dan Rasul-Nya atau hukum jahiliyah. Siapa yang berpaling dari yang pertama, maka ia akan di timpa oleh yang kedua, yang berpijak pada kebodohan, kezaliman, dan kesewenang wenangan". (Taisir karimir rahman surah Al-Maidah ayat 50)

Dan belumkah datang masanya bagi para penyeru demokrasi untuk bertaubat dan mengingat serta memahami, bahwa demokrasi adalah alat musuh, adakah musuh yang mau meminjamkan senjatanya untuk melawan mereka sendiri ? Tidakkah mereka ingat kebusukan musuh dan orang kafir dalam pemilu di Al-Jazair, di Turki yang mengakibatkan beberapa kali kudeta dan itu belum lama berselang, juga pemilu palestina, Irak, Tunis, Libya, Yaman, ambilah pelajaran wahai orang-orang yang memiliki pandangan.

Dari sejarahnya, demokrasi pun sangat kelam di dasari oleh semangat Paganisme yang jauh dari wahyu. Demokrasi di kenal semenjak abad ke-5 -sm. Diantara pemikir demokrasi untuk mengatur sebuah polis (masyarakat/ manusia),

• Thuchydiles (460-499sm)
• Socrates (469-399sm)
• Di teruskan oleh muridnya Plato (427-347sm)
• Aristoteles (384-322)

Dari sejarahnya, bahwa munculnya demokrasi adalah pikiran tanpa wahyu dan semangat Paganisme yang bersumber dari hawa nafsu. Dan kenyataannya, di negara-negara demokrasi tidak sepenuhnya demokratis, di Amerika sebagai raja demokrasi sampai sekarang hanya dua partai saja yamg berkuasa selebihnya adalah di kuasai pemilik modal dari kalangan borjuis (lihat juga di indonesia), dalam arti siapa yang bermodal (punya dana) ialah yang dapat menentukan dan memperoleh suara dan di sana isu ras sangat kuat dan yang menjadi sasaran adalah kaum negro dan juga umat islam, inikah demokrasi ?

Lalu baju usang demokrasi ini di kais-kais oleh kaum muslimin dalam tong sampah Paganisme. Islam sendiri tidak menentukan bentuk tapi lebih menekankan isi dari sebuah imarah (pemerintahan) bisa di tunjuk sebagaimana Abu Bakr dan Umar, bisa di pilih oleh syura' seperti Utsman, dan Ali radhiallahu 'anhum, juga bisa kehilafahan di zaman Umawy dan Abasy, juga bisa kerajaan seperti munghal dan Utsmani, atau Saudi, atau apapun istilahnya, dari republik atau monarki selama syariat Islam di terapkan.

Manusia boleh membuat peraturan untuk rakyat dan juga undang-undang selama tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah. Selanjutnya kebobrokan demokrasi adalah kebebasan dan suara terbanyak, semua tidak di larang selama tidak bertentangan dengan undang-undang, bukankah ini kekufuran yang nyata. Kemudian, hizbiyah, nasionalisme (merasa bangsanya lebih baik dari bangsa lain), partai, golongan, dan perpecahan inilah hasil demokrasi.

Setiap golongan dan partai merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka, mentazkiyah diri dan menganggap partainya dan dirinya "kecap nomor satu" dan merasa merekalah yang paling layak memimpin partai yang paling bersih dan negara pasti makmur bila mereka yang memimpin dan mengelola, serta menganggap remeh dan rendah partai, kelompok dan rival lainnya hatta dengan sesama muslim dan ini sifat tercela.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

منيبين اليه واتقوه واقيموا الصلوة ولا تكونوا من المشركين ، من الذين فرقوا دينهم وكانوا شيعا ۗ  كل حزب بما لديهم فر حون

"Dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta laksanakanlah sholat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka". (QS. Ar-Rum: 31-32)

Kemudian karena sebab evouria politik, sebagian orang melalaikan ilmu syar'i dan pembenahan tauhid. Di pikiran mereka yang ada hanya pemenangan pemilu, kampanye, menghalau manusia, kadang partai Islampun dalam kampanye dan merekrut masa tidak dengan cara islami, dengan musik, hiburan, ikhtilat, wanita keluar dan mereka meneriakkan membela dan memperjuangkan syariat islam dengan sekaligus di waktu yang sama melecehkan syariat Islam.

Masing-masing yang ikut politik mentazkiyah diri mereka masing-masing, seakan perubahan itu dari diri mereka, negara baik bila saya terpilih, saya bersih, jujur, amanah, dapat di percaya, tidak korupsi, tidak ngapusi, dan bla bla bla,

الم تر إلى الذين يزكون انفسهم بل الله يزكى من يشاء

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang orang yang mentazkiyah (mengangap dirinya bersih/suci), padahal Allah lah yang membersihkan siapa yang di kehendaki Nya". (QS. An Nisa: 49)

Lalu lupa bahwa tujuan Islam dan dakwahnya bukan untuk kursi dan kedudukan, tapi bagaimana manusia mengibadati Allah semata. Para penyeru demokrasi itu pada diri mereka terdapat rasa cinta kedudukan, sebagian orang dari mereka menyeru bahwa yang saya perjuangkan adalah Islam !!! Memang belum jadi tapi kalau sudah jadi, realita yang berbicara, perjuangan mereka untuk agama atau diri mereka, demikian, diri mereka sendiri dan Allah Ta'ala lebih tau isi hati mereka yang mengetahui mata-mata yang khianat dan apa yang tersembuyi dalam hati

Lihatlah ketamakan mereka, menjelang pemilu, demi kursi naik pohon (menek wet ndolek kursi) sehingga anda akan melihat, bendera siapa yang lebih tinggi dan foto siapa yang paling besar terpampang di jalanan. Mereka tidak memahami, bahwa jabatan itu amanah yang berat. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

انا عرضنا الامانة علی السموت والارض والجبال فابين ان يحملنها واشفقن منها و حملها الانسان ۗ  انه كان ظلوما جهولا

"Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh". (QS. Al-Ahzab : 72)

Kemudian sistem demokrasi itu menjadikan manusia mudah bersilat lidah, hipokerit, mulutnya berbusa (jawanya "umuk") , biasa memelintir kata dan berbahasa dengan dua kepala (kata bersayap). Yang kata Syaikh Abdul Malik ramadhani: "Semua itu akibat sikap mudahana (cari muka dan basa basi)".
(Sittu Durar min Ushulil Ahli Atsar 238)

Kita berlindung dari sifat basa-basi dan cari muka. Kemudian, dengan semua ini mereka menyangka telah membela Islam, tidak kemudian tidak !!! Bukti, ternyata demokrasi telah menggerus idealisme mereka yang dulunya saat sekolah di UI madinah, jenggotnya panjang, sekarang klemis, "mencocokkan dengan keadaan di DPR MPR yang mengharuskan klemis" ???

"Kita partai islam !!!" tapi saat, sesaat setelah jadi pimpinan MPR baru beberapa menit, idealisme itu hilang "saya rasa untuk indonesia, tidak perlu penegakkan syariat islam yang ada bahwa islam menjiwai setiap kebijakan dan hukum yang di laksanakan" apa ini, kenapa sungkan, pekewuh dengan siapa, kenapa malu, malu dengan siapa, malu dengan partai sekuler ???

Demokrasi dan kesibukanya, melalaikan orang dari mempelajari syariat dan sunnah sehingga anda dapati sebagian orang lebih sibuk orasi, mengepalkan tangan dan teriak-teriak di setiap jalan, dari pada membahas fikih thaharah dan dasar-dasar tauhid.

Satu pertanyaan, adakah saat ini rukshah kita cawe-cawe ikut demokrasi, takutnya parlemen dan kebijakan akan di dominasi orang kafir, kan babi pun halal bila ada kondisi darurat, kenapa kita mutasyadid (keras) ? Kami jawab, di zaman Nabi orang kafir memiliki "parlemen" darun nadwah apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ikut di parlemen itu ?

Apakah kita masih belum tau dengan demokrasi itu, ya itu yang di inginkan orang kafir ? kok kita umat Islam malah latah ikut ikutan. Jawaban kami dan ini jawaban para Ulama bahwa belum ada keringanan bagi kita ikut latah cawe-cawe demokrasi. Tugas kita perbaiki masyarakat, fahamkan sunnah, benahi tauhid, terus amar maruf nahi munkar.

Ya ini lama ? Ya ini lama dan panjang, tapi ini jalan satu-satunya. Tempuh jalan satu-satunya ini untuk perbaikan, sebagaimana sedikit demi sedikit kita jauh dari Islam. Bumi seluruhnya milik Allah Ta'ala, makhluk seluruhnya di bawah kuasa Allah Ta'ala, Dia akan mewariskan bumi ini pada orang-orang yang shalih dan akibat dan kesudahan yang baik itu, bagi orang yang bertaqwa. Ingat, kita hanya berusaha, hasil di tangan Allah Ta'ala.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Maraji:
• Silahkan untuk memahami tulisan kami merujuk pada Madarikun Nadzar fi Siyasah Syaikh Abdul Malik dan
• Risalah Adlu fi Syariah wa Laisa fi Dimuqratiyah Syaikh Muhaddist Abdul Muhsin Abbad Al-Badr

_______
Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

Group WhatsApp: wa.me/62895383230460

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.


Posting Komentar untuk "Pandangan Tajam Pada Demokrasi"