Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Shalat Tarawih







Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al-Atsary hafizhahullah

Allah Ta'ala memuji hamba-hamba-Nya yang memiliki keriteria:

كَا نُوْا قَلِيْلًا مِّنَ الَّيْلِ مَا يَهْجَعُوْنَ، وَبِا لْاَ سْحَا رِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam dan di waktu-waktu sahur mereka beristighfar". (Qs. Az Dzariyat: 17-18)

Pembahasan kita saat ini mengenai shalat tarawih.

Kata Tarawih


Kaum muslimin sering mengira bahwa qiyamul lail, tahajjud, shalat malam, witir itu satu amalan yang berbeda, namun sebenarnya tidak jauh beda, hanya istilahnya saja, sedang yang di maksud adalah shalat di malam hari.

Di katakan Tarawih (تراويح) secara bahasa artinya istirahat, yakni kaum muslimin pada jaman dahulu bila shalat malam di bulan Ramadhan mereka beristirahat setiap dua rakaat atau empat rakaat untuk melanjutkan shalat kembali.

Fadhilah Tarawih


1) Shalat tarawih bersama imam sampai selesai seperti shalat semalam penuh.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

"Barangsiapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka di tulis baginya sebagai shalat semalam penuh". [HR. Tirmidzi 734, Nasai 1347, Abu Dawud 1167, Ibnu Majah 1317, Ahmad 20450, Darimi 1712]

2) . Mendapatkan ampunan dosa yang telah lalu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

"Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni". [HR. Bukhari 38 dan Muslim 760]

Kami tidak akan membahas perselisihan mengenai tarawih dengan jumlah dua puluh rakaat atau sebelas rakaat, karena sudah jelas terang benerang bahwa mengikuti sunnah Nabi shallallahu 'alahi wa sallam lebih utama dan itulah tujuan syariat ini, dan bukan waktunya lagi bagi kaum muslimin mendebatkan hadits shahih dengan ucapan-ucapan yang lain.

Waktu Afdhal Shalat Tarawih


Berita dari Aisyah Ummul Mu'minin radhiallahu 'anha, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar di tengah malam ke masjid untuk shalat:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ ، فَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ...

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam keluar di tengah malam untuk melaksanakan shalat di masjid". [HR. Bukhari 11, kitab Jumuah 29, bab mengucapkan amma ba'du setelah memuji Allah dalam bicara]

Dari keterangan di atas, di ketahui bahwa yang utama untuk keluar shalat malam adalah di tengah malam atau akhir malam bila mampu dan ini yang afdhal.

Ada keterangan:

فَإِنَّ صَلَاةَ آخِرِ اللَّيْلِ مَشْهُودَةٌ وَذَلِكَ أَفْضَلُ

"Karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu di saksikan (malaikat) dan itu lebih baik". [HR. Muslim 174]

Bila seseorang di hadapkan dengan dua opsi, antara shalat tarawih sendiri di akhir malam, atau shalat tarawih di awal malam dengan berjamaah ?

Jawabannya, hendaknya shalat tarawih berjamaah di awal waktu bersama imam dan itu di hitung sebagai shalat semalam penuh, sebagaimana yang di sabdahkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

"Barangsiapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka di tulis baginya sebagai shalat semalam penuh". [HR. Ahmad. Lihat Irwah 447]

Juga kebiasaan manusia di zaman Umar radhiallahu 'anhu, bahwa mereka shalat di awal malam.

و كان الناس يقومون أوله

"Adalah manusia menegakkan shalat (tarawih berjamaah) di awal waktunya (di zaman Umar)." [HR. Bukhari 1906]

Cara Tarawih Dari Riwayat-Riwayat Yang Ada


1) Shalat tarawih sembilan rakaat. Shalat langsung tujuh rakaat dengan tasyahud awal pada rakaat ke enam, kemudian berdiri satu rakaat lagi dan salam, lalu shalat dua rakaat lagi.

2) Shalat tarawih sebelas rakaat. Shalat langsung sembilan rakaat dengan tasyahud awal pada rakaat ke delapan, kemudian berdiri satu rakaat lagi dan salam, lalu shalat dua rakaat lagi.

Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah radhiallahu anha: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat sembilan rakaat, tidak duduk kecuali pada rakaat ke delapan, beliau berdzikir, bertahmid, dan berdoa dan tidak salam lalu bangkit menuju rakaat ke sembilan lalu beliau berdzikir, bertahmid, dan berdoa dan salam sampai terdengar oleh kami, kemudian beliau shalat dua rakaat lagi sambil duduk, maka itu sebelas rakaat. Wahai anakku dan tatkala beliau sudah mulai tua dan gemuk beliau shalat witir tujuh rakaat, lalu shalat dua rakaat lagi, seperti cara pertama tadi maka semuanya sembilan rakaat wahai anakku". [HR. Muslim 746, dari Aisyah radhiallahu 'anha saat di tanya Sa'ad bin Hisyam radhiallahu 'anhu]

3) Shalat tarawih sebelas rakaat dengan dua rakaat salam, dua rakaat salam dan witir satu rakaat.

كَانَ النَّبِىُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ فِى كُلِّ اثْنَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat sebelas rakaat antara Isya sampai Shubuh. Beliau salam di setiap dua rakaat, dan melakukan witir dengan satu rakaat". [HR. Muslim 736]

4) Shalat tarawih sebelas rakaat, setiap empat rakaat salam, empat rakaat salam, dan witir tiga rakaat tanpa tasyahud awal, kemudian di akhiri salam.

Dasarnya adalah hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dari Aisyah radhiallahu 'anhu, beliau mengatakan:

مَا كَانَ يَزِيدُ فِى رَمَضَانَ وَلاَ غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ، ثُمَّ يُصَلِّى ثَلاَثًا

"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malam di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau melakukan shalat empat raka’at, maka jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat empat raka’at lagi dan jangan tanyakan mengenai bagus dan panjangnya. Kemudian beliau melakukan shalat tiga raka’at". [HR. Bukhari 1874 dan Muslim 738]

Cara yang terakhir adalah cara yang masyhur. Dan cara untuk empat rakaat di atas boleh di lakukan dua rakaat salam, dua rakaat salam, berdasarkan keumuman hadits berikut:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى

"Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat". [HR. Bukhari 460 dan Muslim 749]

5) Shalat tarawih tiga belas rakaat, delapan rakaat dilakukan dengan salam tiap dua rakaat, kemudian witir lima rakaat tanpa tasyahud awal dan ditutup dengan salam di akhir rakaat.

Disebutkan dalam sebuah riwayat: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa tidur malam, apabila bangun beliau bersiwak lalu berwudhu, kemudian melakukan shalat delapan rakaat, salam setiap dua rakaat. Setelah itu beliau berwitir lima rakaat dengan duduk tasyahud dan salam pada rakaat yang kelima”. [HR. Muslim no. 737 dan Ahmad no. 24965]

6) Shalat tarawih tiga belas rakaat, dengan di awali shalat dua rakaat ringan, dilanjut salam tiap dua rakaat, kemudian di tutup witir satu rakaat dan salam.

Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani, beliau berkata:

لَأَرْمُقَنَّ صَلَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّيْلَةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ طَوِيلَتَيْنِ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ وَهُمَا دُونَ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ثُمَّ أَوْتَرَ فَذَلِكَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً

"Sesungguhnya aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat malam, maka beliau memulai dengan shalat dua rakaat yang ringan, kemudian beliau shalat dua rakaat dengan bacaan yang panjang sekali, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat dua rakaat dengan bacaan yang lebih pendek dari rakaat sebelumnya, kemudian shalat witir satu rakaat, hingga bilangan semua raka'atnya adalah tiga belas raka'at". [HR. Muslim 1284]

Bolehkah Shalat Tarawih Kurang Dari Yang Di Sebutkan Di Atas ?


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

"Shalat Witir wajib bagi setiap muslim. Barangsiapa yang ingin berwitir dengan lima rakaat, maka kerjakanlah, yang ingin berwitir tiga rakaat, maka kerjakanlah, dan yang ingin berwitir satu rakaat, maka kerjakanlah". [HR. Abu Daud 1422. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih]

Bolehkah Shalat Tarawih Lebih Dari Sebelas Rakaat ?


Kami memandang dari penjelasan Ulama dan juga riwayat-riwayat yang ada, bahwa yang di contohkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah sebelas rakaat dan inilah yang benar. Sedangkan riwayat yang mengatakan Nabi shalat tarawih dua puluh rakaat atau lebih adalah berdasarkan riwayat-riwayat lemah.

Sebagaimana di sebutkan, katanya dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu: "Adalah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam shalat tarawih di bulan Ramadhan sebanyak dua puluh rakaat, di tambah witir". [HR. Baihaqi dan Thabrani]

Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan, bahwa riwayat Thabrani dan Baihaqi itu palsu. (Silsilah hadits Dhaifah 3/35)

و قال الطبراني : لا يروى عن ابن عابس الا بهذا الاسناد
و قال البيهقي : تفرد به ابو شيبة و هو ضعف
و قال الهيتمي : ان ابا شيبة ضعيف

Berkata Thabarani: "Hadits itu hanya di riwayatkan dari Ibnu Abbas dari jalur riwayat ini (Abu Syaibah)".
Berkata Baihaqi: "Tafarud pada Abu Syaibah dan dia lemah".
Berkata Haitami: "Abu Syaibah lemah". (Lihat Majmauz Zawahid 3/172)

Dan riwayat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam shalat dua puluh rakaat itu bertentangan dengan hadits Aisyah radhiallahu 'anhu: "Nabi pada Ramadhan atau di luar Ramadhan tidak shalat malam lebih dari sebelas rakaat". [HR. Ibnu Hibban 920, Thabrani 108 dalam Mujamus Shaqir/kitab Qiyamul Lail 144]

Namun, bila pun ada orang yang shalat tarawih lebih dari sebelas rakaat kami berlapang dada padanya, karena ada riwayat secara umum yang berbunyi, "Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat". Meski yang kami fahami, Wallahu A'lam, hadits di atas di kembalikan kepada hadits Aisyah radhiallahu 'anhu tentang sifat shalat malam Nabi yang sebelas rakaat. Perselisihan jumlah rakaat tarawih adalah masyhur dan di anggap, namun sekali lagi, beribadah sesuai tuntunan lebih di utamakan dan untuk menutup pintu perselisihan, menenangkan hati dan jaminan pahala serta keselamatan.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Shalat Tarawih"