Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nenek Moyang, Yasinan, Tahlilan Dan Mendo'akan Orang Tua




Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad suud Al Atsary hafidzahullah

Allah Subhanahu wa Ta'ala mewajibkan setiap anak berbakti dan mendoakan kebaikan bagi orang tua mereka.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

و بالوالدين إحساناً

"Dan kepada kedua orang tua mu berbuat kebaktianlah pada mereka." (QS. Al Isra: 23)

Di ayat selanjutnya dipertegas:

و اخفض لهما جناح الذل من الرحمة و قل رب ارحمهما كما ربيني صغيراً

"Dan rendahkan dirimu kepada mereka sebagai bentuk kasih sayang dan penghormatan dan katakan sebagai doa. Ya Allah rahmatilah keduanya sebagaimana mereka mengasuh aku diwaktu kecil". (QS. Al Isra: 24)

Memuliakan orang tua adalah kewajiban. Mendoakan orang tua juga kewajiban anak. Berbakti kepada nenek moyang boleh dan keharusan, dengan syarat apa yang diajarkan nenek moyang itu tidak melanggar syari'at islam.

Kita selama ini dipaksa mengikuti adat-adat yang bukan ajaran islam, bahkan dari sejak lahir. Belum lahir sudah diajari kesyirikan dengan pitonan dan semisal. Saat lahir, bau syirik tetap, dengan acara ngubur ari-ari. Besar sedikit, diajari ulang tahun.

Saat kemantenan, nginjak telur jamasan dan semisal. Saat matipun, dipaksa kita ikut acara Yasinta (yasin tahlil). Jadi kita ini islam atau hindu?

Dari lahir sampai mati, tidak terlihat islamnya? Bila ada orang yang tidak yasinan dan tahlilan, di katakan anak durhaka. Tidak bakti sama orang tua. Seakan bila tidak yasinan dan tahlilan berarti tidak mendoakan orang tua. Ibaratnya, seakan bila tidak makan nasi, meskipun sudah makan bubur satu panci, dikatakan belum makan.

Bila ditanyakan dalil dari islamnya mana? Jawabnya, dasar wahabbi!!

Sementara Fatwa Batsul Masail NU yang ditanda tangani Syaikh Muhammad Hasyim Asy'ari pendiri NU mengatakan, "Selametan setelah kematian adalah bid'ah mungkar, dan orang yang mengingkarinya mendapat pahala." (fatwa tertanggal 13 Rabiul Akhir 1345 h/21 Oktober 1926)

Inilah fatwa yang mencocoki Madzhab Syafi'i, bahwa pahala bacaan Al-Qur'an tidak sampai pada mayat.

Bila Ulama NU melarang yasinan, tahlilan, dan selametan. Lalu yang diikuti orang hari ini, panutannya siapa?

Itu kan baik, "elek ke ndok endi". Kata KH. Anwar Zahid dari Bojonegoro. Kita katakan, jeleknya karena menyelisihi ajaran Nabi shalallahu 'alaihi wa salam.

Bisakah dikatakan, bila Natal diisi acara sedekahan, baca Al-Qur'an lalu di katakan Natal itu ajaran islam?

Semoga tulisan kecil ini, bisa menjadi nasihat kita semua. Yang masih keras mengikuti tradisi-tradisi yang bukan datang dari islam. Kita semua hamba Allah, umur singkat, kenapa masih kekeh dengan ajaran nenek moyang. Dan semoga disaat-saat kritis, kita tetap bisa berpegang dengan agama islam dan ajarannya.

Sedikit dari tulisan ini, semoga jadi penggugah dan nasehat.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

3 komentar untuk "Nenek Moyang, Yasinan, Tahlilan Dan Mendo'akan Orang Tua"

  1. Assalamualaikum posting ini sangat membantu
    Izin share
    Jangan lupa kunjungi
    Hadis-quran.blogspot.com
    Tolong di koreksi blog saya

    BalasHapus
  2. Postingannya mendabdakan masih belum alim.

    BalasHapus
  3. Umat islam tidak butuh statemen sekte wahabi

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak