Jalan Golongan Yang Selamat (Bagian 15)



Syirik Besar dan Macamnya


Syirik besar adalah menjadikan sesuatu sebagai sekutu (tandingan) bagi Allah. Anda memohon kepada sesuatu itu sebagaimana Anda memohon kepada Allah atau melakukan padanya suatu bentuk ibadah, seperti istighatsah (mohon pertolongan), menyembelih hewan, bernadzar dan sebagainya.

Dalam Shahihain disebutkan, Ibnu Mas’ud meriwayatkan, aku bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Dosa apakah yang paling besar ?” Beliau menjawab:

أَنْ تَجْعَلَ لِلّٰهِ نِدًّا وَ هُوَ خَلَقَكَ

"Yaitu engkau menjadikan tandingan (sekutu) bagi Allah, sedangkan Dia lah yang menciptakanmu". [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Macam-Macam Syirik Besar


1. Syirik dalam Doa.

Yaitu berdoa kepada selain Allah, baik kepada para Nabi atau Wali, untuk meminta rizki atau memohon kesembuhan dari penyakit.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَالَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۚ فَاِنْ فَعَلْتَ فَاِنَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ

“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang dzalim". (QS. Yunus: 106)

Dzalim yang dimaksud oleh ayat ini adalah syirik. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan dalam sabdanya:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُوْنِ اللهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa meningal dunia, sedang dia memohon kepada selain Allah sebagai tandingan (sekutu), niscaya dia masuk Neraka". [HR. Al-Bukhari]

Sedangkan dalil yang menyatakan bahwa berdoa kepada selain Allah, baik kepada orang-orang mati atau orang-orang yang tidak hadir merupakan perbuatan syirik adalah firman Allah Ta’ala:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ تَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖ مَا يَمْلِكُوْنَ مِنْ قِطْمِيْرٍ، اِنْ تَدْعُوْهُمْ لَا يَسْمَعُوْا دُعَآءَكُمْ ۚ وَلَوْ سَمِعُوْا مَا اسْتَجَا بُوْا لَـكُمْ ۗ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُوْنَ بِشِرْكِكُمْ ۗ وَلَا يُـنَـبِّـئُكَ مِثْلُ خَبِيْرٍ

"Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui". (QS. Fatir: 13-14)

2. Syirik dalam Sifat Allah.

Seperti kepercayaan bahwa para Nabi dan Wali mengetahui hal-hal yang ghaib.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهٗ مَفَا تِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ

“Dan kunci-kunci semua yang ghaib ada pada-Nya, tidak ada yang mengetahui selain Dia sendiri". (QS. Al-An’am: 59)

3. Syirik dalam Mahabbah (Kecintaan).

Yang dimaksud syirik dalam mahabbah yaitu ia mencintai seseorang baik Wali atau lainnya sebagaimana kecintaannya kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ اَنْدَادًا يُّحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَشَدُّ حُبًّا لِّـلّٰهِ ۗ

"Dan diantara manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah". (QS. Al-Baqarah: 165)

4. Syirik dalam Ketaatan.

Yaitu ketaatan kepada Ulama atau Syaikh dalam hal kemaksiatan, dengan mempercayai bahwa hal tersebut dibolehkan.

Allah Ta’ala berfirman:

اِتَّخَذُوْۤا اَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَا نَهُمْ اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ

"Mereka menjadikan orang-orang alim (Yahudi), dan rahib-rahibnya (Nasrani) sebagai Tuhan selain Allah". (QS. At-Taubah: 31)

Taat kepada para Ulama dalam hal kemaksiatan yaitu dengan menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah, atau sebaliknya, mengharamkan apa yang dihalalkan Allah. Taat kepada para Ulama dalam hal kemaksiatan inilah yang ditafsirkan sebagai bentuk ibadah kepada mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

"Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam hal maksiat kepada Al-Khalik (Allah)". [HR. Ahmad, hadits shahih]

5. Syirik Hulul.

Yaitu mempercayai bahwa Allah menyatu kepada para makhluk-Nya. Ini adalah aqidah Ibnu Arabi, seorang Shufi yang meninggal dunia di Damaskus. Sampai-sampai Ibnu Arabi mengatakan:

الرَّبُّ عَبْدٌ، وَالْعَبْدُ رَبٌّ

“Tuhan adalah hamba, dan hamba adalah Tuhan”

يَالَيْتَ شِعْرِيْ مَنِ الْمُكَلَّفُ ؟

“Duhai sekiranya, siapakah yang dibebani kewajiban ?”

Seorang penyair Shufi lainnya, yang mempercayai aqidah hulul bersenandung:

وَمَا الْكَلْبُ وَالْخِنْزِيْرُ إِلاَّ إِلَهُنَا

“Tiada anjing dan babi itu, melainkan Tuhan kita (juga).”

وَمَا اللَّهُ إِلاَّ رَاهِبٌ فِيْ كَنِيْسَةِ

“Dan tiadalah Allah itu, melainkan seorang rahib yang ada di gereja.”

6. Syirik Tasharruf (Tindakan).

Yaitu keyakinan bahwa sebagian para Wali memiliki keleluasaan untuk bertindak dalam urusan makhluk, percaya bahwa mereka bisa mengatur persoalan-persoalan makhluk. Mereka namakan para Wali itu dengan “Wali Quthub.” Padahal Allah Ta’ala telah menanyakan orang-orang musyrik terdahulu dengan firman-Nya:

وَمَنْ يُّدَبِّرُ الْاَمْرَ ۗ فَسَيَـقُوْلُوْنَ اللّٰهُ ۚ

"Dan siapakah yang mengatur segala urusan ? Maka mereka akan menjawab, Allah". (QS. Yunus 31)

7. Syirik Khauf (Takut).

Yaitu keyakinan bahwa sebagian dari para Wali yang telah meninggal dunia atau makhluk-makhluk yang ghaib bisa melakukan dan mengatur suatu urusan serta mendatangkan mudharat (bahaya). Karena keyakinan ini, mereka menjadi takut kepada para Wali atau makhluk ghaib orang tersebut.

Karena itu, kita menjumpai sebagian manusia berani bersumpah bohong atas nama Allah, tetapi tidak berani bersumpah bohong atas nama Wali, karena takut kepada Wali tersebut. Kita dilarang mengucapkan sumpah atas nama selain Allah. Hal ini ditegaskan berdasarkan riwayat dari Umar bin Al-Khattab bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللَّهِ فَقَدْ كَفَرَ أَوْ أَشْرَكَ

"Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, maka dia telah berbuat kekafiran atau kemusyrikan". [HR. Tirmidzi, no.1535]

Ibnu Abdil Barr menegaskan: "Tidak dibolehkannya bersumpah atas nama selain Allah adalah menurut Ijma (kesepakatan) Ulama".

Hal ini adalah kepercayaan orang-orang musyrik, yang diperingatkan Al-Quran dalam firman-Nya:

اَلَيْسَ اللّٰهُ بِكَا فٍ عَبْدَهٗ ۗ وَيُخَوِّفُوْنَكَ بِا لَّذِيْنَ مِنْ دُوْنِهٖ

"Bukankah Allah yang mencukupi hamba Nya ? Mereka menakut-nakutimu dengan sesembahan yang selain Dia". (QS. Az-Zumar: 36)

Adapun takut kepada hewan liar atau kepada orang hidup yang dzalim, maka hal itu tidak termasuk dalam syirik ini. Itu adalah ketakutan yang merupakan fitrah dan tabiat manusia, dan tidak termasuk syirik.

8. Syirik Hakimiyah.

Termasuk dalam syirik hakimiyah (kekuasaan) yaitu mereka yang membuat dan mengeluarkan undang-undang yang bertentangan dengan syariat Islam dan membolehkan diberlakukannya undang-undang tersebut. Atau dia memandang bahwa hukum Islam tidak lagi sesuai dengan zaman.

Yang tergolong musyrik dalam hal ini adalah para hakim (penguasa, yang membuat serta memberlakukan undang-undang), serta orang-orang yang mematuhi dan menjalankan undang-undang tersebut, jika dia meyakini kebenaran undang-undang itu serta rela dengannya.

Syirik Besar Bisa Menghapuskan Amal


Allah Ta’ala berfirman:

وَلَـقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِ لَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَئِنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

"Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu. Sungguh, jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi". (QS. Az-Zumar: 65)

Syirk besar tidak akan diampuni oleh Allah kecuali dengan taubat dan meninggalkan perbuatan syirik secara keseluruhan.

Allah Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَغْفِرُ اَنْ يُّشْرَكَ بِهٖ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذٰلِكَ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَمَنْ يُّشْرِكْ بِا للّٰهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًاۢ بَعِيْدًا

"Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh, dia telah tersesat jauh sekali". (QS. An-Nisa’: 116)

Syirik Banyak Macamnya


Diantaranya adalah syirik besar dan syirik kecil. Semua itu wajib dijauhi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita agar berdoa:

اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ, وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, kami berlindung kepadaMu dari menyekutukanMu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampun kepada-Mu dari (menyekutukanMu dengan sesuatu) yang kami tidak ketahui". [HR. Ahmad, dengan sanad shahih]

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Sumber: Kitab Minhaj al-Firqah an-Najiyah wa Ath-Tha’ifah al-Manshurah (Jalan Golongan Yang Selamat) Karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zain

🔰 Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Belum ada Komentar untuk "Jalan Golongan Yang Selamat (Bagian 15)"

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel