Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bentuk Durhaka Kepada Orangtua Yang Tidak Kita Sadari




Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah mengingatkan:

إذا تأمّلنا في أحوال النّاس اليومَ، وجدنا كثيراً مِنهم لا يَبرَّ بوالديه، بل هو عاقٌّ، تجدهُ يُحسنُ إلى أصحابه، ولا يملُّ الجلوس معهم، لكن لو يجلس إلى أبيه أو أمِّه ساعةً من نهار، لوجدته متململاً، كأنّما هو على الجمر، فهذا ليس ببارٍّ، بل البَارُّ مَن يَنشرحُ صدْرهُ لأُمِّه وأبيه، ويخدمهما على أهداب عينيه، ويحرص غايةَ الحرص على رضاهما بكلِّ ما يستطيع

"Jika kita memperhatikan kondisi manusia saat ini, maka kita dapati kebanyakan dari mereka tidak berbakti kepada orangtuanya, bahkan dia durhaka. Terkadang kamu dapati seseorang yang ia sangat baik terhadap teman-temannya dan tidak pernah bosan duduk bersama mereka. Namun, apabila ia duduk bersama bapak atau ibunya sesaat saja di waktu siang, kamu dapati ia merasa gelisah, seakan-akan ia sedang berada di atas bara api. Ini bukan anak yang berbakti".

Hanya saja anak yang berbakti adalah yang lapang dadanya bersama ibu dan bapaknya, dan melayani mereka berdua pada kedua pelupuk matanya, dan dengan penuh rasa semangat untuk meraih keridhaan keduanya dengan segala kemampuan". (Syarh Aqidah Wasithiyyah 3/121)

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

1 komentar untuk "Bentuk Durhaka Kepada Orangtua Yang Tidak Kita Sadari"

  1. Ustadz, bila seorang anak mendengerarkan keluhan orang tua berjam-jam setiap harinya apakah itu termasuk berbakti kepada mereka? Bagaimana kalau mereka sering mengghibah karib kerabat dan orang lain apakah boleh seorang anak mengurangi interaksi dengan orang tua sehingga tidak mendengarkan ghibah tersebut? Karena ini terjadi hampir setiap hari. Jazakallahu khairan.

    BalasHapus

Berkomentarlah dengan bijak