Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membantah Syubhat Tahlilan Dan Yasinan

 




Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al-Atsary hafidzhahullah

Berkata Abdul Somad: "Tidak benar tahlil dan Yasin ajaran Hindu, apa isi tahlil, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaha Ilallah, bila orang Hindu ucap Laa Ilaha Ilallah masuk Islam lah dia" 

Berkata Anwar Zahid: "Elek e ndok endi, tahlilan itu minongko dzikir, elek e ndok endi?, minongko moco Al-Qur'an, elek e ndok endi ? Panganane minongko sedekah, elek e ndok endi?".

Kajian kali ini, kami (Abu Abd rahman) akan buat berseri dengan seri pertama yaitu, membantah syubhat Yasinta atau Yasinan dan tahlilan yang di masyarakat kita di sebut sebagai slametan. Kita akan menimbang, tradisi-tradisi yang ada, apakah berasal dari Islam atau hanya labelisasi kesyirikan dan bid'ah. Ini tugas kami kedepan untuk memperjelas kesalahan ucapan para pengusung bid'ah dan kesesatan di kalangan masyarakat kita.

Pertama, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan tentang bid'ah dan amalan tanpa ada contoh:

من عمل عملا ليس عليه امرنا فهو رد

"Barangsiapa beramal dengan satu amal yang tidak ada perintah dari kami, maka amalan tersebut tertolak". [HR. Bukhari 20 dan Muslim 1718]

Di sebutkan dalam riwayat yang di ucapan Shahabat:

كل بدعة ضلالة و إن راها الناس حسنة

"Setiap bid'ah adalah sesat, meskipun manusia pada umumnya memandang hal itu baik". (Jamiul Ulimi wal Hikam hal.77)

Ini adalah timbangan keadilan dan syar'iat. Semua pengakuan akan dasar cinta di dalam ibadah di timbang dengan ucapan Rasulullah shalallahu alaihi wa salam ini. Di sebutkan, bahwa ibadah itu hendaknya mencocoki dua hal, yaitu Ikhlas dan mencocoki sunnah.

Mencocoki sunnah ada timbangannya, yaitu sebab (السبب), jenis (الجنس), bilangan (العدد), tata cara (الكيفية), waktu (الزمان) dan tempat (المكان). Bila keenam hal itu mencocoki sunnah itulah amalan syar'i, bila tidak mencocoki sunnah dalam enam timbangan itu, maka tidak bisa satu amalan di nilai sebagai syariat Islam dan sunnah. Namun, penyimpangan.

Contoh: Sedekah dalam Islam itu adalah sesuai kemampuan, tidak di paksakan, tidak di tentukan harinya dan tidak di cela syar'iat bagi orang yang tidak mampu melaksanakannya. Sekarang kita timbang ucapan Kyai Anwar Zahid, bahwa makanan acara Yasinan atau slametan itu adalah sedekah.

Sedekah dalam acara slametan itu terkait hari kematian atau geblak dalam bahasa jawa, di tentukan waktunya satu hari sampai seribu hari, kadang seorang harus hutang kesana kemari hanya untuk sekedar buat slametan dan akan mendapatkan bully oleh komunitas masyarakatnya bila tidak melaksanakan. Dari sini saja terbukti kedustaan ucapan kyai Anwar Zahid. Apa yang mereka lakukan bukan sedekah, karena sedekah syar'i ada tuntunannya, tapi yang mereka lakukan sekedar mengikuti tradisi jahiliah.

Kedua, terkait ucapannya bahwa slametan itu isinya membaca Al-Quran,

Dalam Islam benar ada khilaf Ulama, apakah pahala bacaan Al-Quran itu sampai pada orang mati. Imam Syafi'i berfatwa tidak sampai, ini yang pertama. Jadi pengakuan mereka pengikut Syafi'i terbantahkan. Mereka bukan mengikuti imam Syafi'i dalam hal ini. Dan kenapa hanya surah Yasin, sedangkan ada 114 surah dalam Al-Quran ? Kenapa tidak sesekali Al-Baqarah ? Sedangkan semua riwayat tentang keutamaan membaca Yasin pada momen tertentu adalah Dhaif dan juga ada yang maudhu.

Untuk terkait ucapan Abdul Somad tentang orang Hindu masuk Islam bila membaca kalimat tauhid di acara slametan, saya bantah setelah ini.

Tidak ada tuntunannya dalam Islam, baik Salaf maupun Khalaf tradisi berkumpul di rumah orang mati untuk meratap (meskipun mengatakan itu doa bersama), Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di tinggal wafat istri, anak dan juga cucu, serta Shahabat, tidak ada satupun hadits atau riwayat yang menjelaskan Nabi membuat acara Yasinta.

Bila itu di kaitkan dengan Sunan Kalijaga, siapa Sunan Kalijaga sehingga dapat membuat syari'at melebihi syariat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ? Bilapun itu ajaran Sunan Kalijaga ataupun ajaran Wali, tentu ada bukti, baik tulisan atau manuskrip, semua itu tidak kita temukan sama sekali.

Kenapa ummat di kaitkan dengan Sunan Kalijaga bukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ? Ini penyesatan, bilapun umpama Sunan Kalijaga itu orang shalih bukan alasan mereka menyandarkan satu amalan kepadanya, bukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Bila ini sebagaimana ucapan Abdul Somad, bahwa ada riwayat dari Atha tentang slametan setelah kematian, maka riwayat itu sudah jelas kelemahannya, bahkan mungkin Abdul Somad tau, bila ia belajar ilmu hadits tentang melemahnya riwayat dari Atha' tersebut. Dan di sisinya ada riwayat-riwayat shahih, kenapa ummat di bawa kepada riwayat dhaif dan palsu, sementara mereka tidak di bawa kepada ajaran dan riwayat yang shahih, bila ini tidak lain untuk penyesatan ummat ?

Orang-orang animisme dan musyrikin Hindu terutama mereka sangat terkait kehidupannya dengan dunia roh, mereka akan melakukan sebuah simbiosis mutualisme antara mereka dengan dunia arwah sebagai sebuah kesepakatan untuk hidup berdampingan dan tidak saling menggangu berupa yajna (slametan).

Di dalam ajaran Hindu, ada beberapa slametan, yaitu dewa yajna, rsi yajna, phitra yajna, manusa yajna dan butha yajna. Itulah lima jenis slametan. Mereka mengenal phitra yajna, yakni selametan untuk arwah yang dalam keyakinan mereka roh akan di siksa, bila tidak melakukan tradisi persembahan atau slametan atau pengorbanan kepada orang mati berupa sesaji, terutama bila yang mati itu anak kecil. Biasanya di lakukan sehari sampai seribu hari. bila tidak di lakukan, maka roh akan gentayangan dan tidak tenang di alam roh.

Keyakinan akan dunia roh semacam ini menyebar di daerah Melayu dan sekitarnya. Kemudian, tradisi-tradisi syirik semacam ini di islamisasi dengan merubah mantera dengan doa secara Islam dan sesaji di ganti dengan berkatan. Mereka lupa, Allah Subhanahu wa Ta'ala melarang kita orang-orang beriman untuk mencampur adukkan antara kebenaran dengan kebathilan.

Ketiga, Abdul Somad berkata: Bila orang Hindu mengucapkan Laa Ilaha Ilallah masuk islamlah dia (dalam kontek ia bicara tradisi tahlilan).

Kalimat syahadat adalah kalimat yang memiliki konsekuensi dan juga makna, ia bukan abjad ataupun kata-kata sebagaimana dalam musik.

Fir'aun mengucapkan kalimat syahadat, namun karena momen tidak tepat, maka ucapannya tidak di terima. Sebagian burung, mereka mengucapkan kata-kata termasuk salam dan kalimat tauhid, namun apakah menjadikan burung itu masuk ke dalam agama Islam ? Sebagian group musik dan artis kafir di Korea dan Amerika, menyanyi dengan isi shalawat dan kalimat tauhid, apakah dengan mengucapkan kalimat Laa Ilaha Ilallah itu dalam perhelatan musik semacam itu, menjadikan mereka beriman dan masuk Islam ?

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman menyindir orang-orang kafir Ahlul kitab Yahudi:

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰٮةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَا رِ يَحْمِلُ اَسْفَا رًا

"Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal". (QS. Al-Jumu'ah: 5)

Benar, seorang masuk Islam dengan mengucapkan kalimat syahadat atau kalimat tauhid, namun sekali lagi tentunya dengan pemahaman, konsekuensi dan tau akan konsekuensi. Bukan hanya di perhelatan musik atau media guyonan atau dalam perhelatan tradisi kesyirikan.

Kami mendengar di acara Natal, Banser NU menyayikan shalawat, juga membaca Al-Quran di gereja bersama jemaat gereja, apakah semua itu menjadikan jemaat gereja menjadi Islam dan masuk kedalam Islam ? Silahkan Abdul Somad menjawab pertanyaan saya.

Keempat, kita faham sebagian besar kaum muslimin terutama di pedesaan dan kaum tradisional menginginkan kebaikan.

Mereka ingin kebaikan, bersedekah dan mendoakan Keluarga yang meninggal, kita tidak menafikan hal ini. Maka, di sinilah peran Ulama dan orang berilmu dengan membimbing mereka kedalam sunnah. Bukan malah menghasung manusia pada penyimpangan dan status quo dalam kesalahan dan bukan membenarkan tradisi yang salah, namun bagaimana mengajak ummat pada Islam yang benar sesuai dengan ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Shahabat.

Kelima, niat ikhlas tidak cukup, kecuali di iringi dengan mengikuti contoh.

Yakni contoh dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan Shahabatnya. Di sana ada kemenangan, kejayaan dan keselamatan.

Banyak orang Hindu yang masuk Islam karena ribet dan tidak masuk akalnya ajaran mereka. Namun mengapa, di sisi lain banyak orang Islam mengikuti ajaran animisme dan Hindu dengan ikhlas ? Bahkan di sana banyak orang berilmu yang secara sadar mencarikan pendalihan untuk sebuah kesalahan agar terlihat benar?

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Maraji:
Nawaqidul Islam, Syarhus Sunnah, Usulus Sunnah, Aqidah Thahawiyah, Kasyfu Syubhat, Kitabut Tauhid, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir As-Sa'dy, Al-Wajiz, Jamiul Ulimi wal Hikam, Al-Istiqomah Ibnu Taimiyah, Ighasatu Lahafan Ibnu Qayyim, Setelah Air Mata Cinta (terjemah), Shahih Tarhib wa Targhib dan Syarah muslim.

Kitab lain:
Aqidatul Awwam (kitab NU), Tafsir Al-Ibriz (Kitab Tafsir NU), Mantan Kyai NU Membongkar Dzikir dan Shalawat Syirik, Mantan Pendeta Hindu membantah Tahlilan, Tradisi Hindu (Kitab Agama Hindu), Sejarah Islam Hamka, Api Sejarah, Atlas Wali Songo, Fakta Baru Wali Songo, Tradisi Jawa, Ensiklopedia Jawa, Buku Induk Kejawen, Sejarah Kerajaan Jawa, Buku Tradisi NU, Bla Kyai Di Pertahankan dan lain-lain.

_____
Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

Group WhatsApp: wa.me/62895383230460

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

1 komentar untuk "Membantah Syubhat Tahlilan Dan Yasinan"

Berkomentarlah dengan bijak