Musibah Kematian




Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud al Atsary hafidzhahullah

Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan nama kematian sebagai musibah. Dia berfirman:

فاصابتكم مصيبة الموت

"Kemudian kalian ditimpa musibah berupa musibah kematian". (QS. Al Ma'idah: 106).

Imam Abu Faraj Abdurahman bin Shalih bin Ahmad bin Rajab rahimahullah berkata tentang kematian, di dalam kitab اهوال القبر و احوال اهله إلى النشور.

"Segala puji bagi Allah, yang telah menempatkan hamba-hamba-Nya di perkampungan dunia, menjadikannya sebagai tempat beramal, dan menjadikan akhirat sebagai kampung keabadian. Menjadikan barzakh sebagai bukti akan kehancuran dunia. Ada kalanya barzakh (alam kubur) merupakan kebun dari kebun surga, dan ada kalanya merupakan kamar dari kamar neraka. Maha Suci Zat yang yang menciptakan apa saja yang Dia kehendaki dan memilih serta memberikan belas kasih kepada hamba-hamba-Nya yang berbakti pada setiap kesulitan, kasih sayang-Nya terhadap hamba-hamba-Nya mendahului murka-Nya, sesungguhnya Allah Maha Penyayang dan Pengampun". (Muqadimah Kitab Ahwalul Qubur hal. 6).

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, tentang gambaran kematian dan musibah dahsyatnya:

و جاءت سكرة الموت بالحق ذلك ما كنت منه تحيد

"Dan datanglah sekarat kematian dengan sebenarnya, itulah (saat-saat) yang selama ini kalian menghindar darinya". (QS. Qaf: 19).

Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah as Sady rahimahullah berkata:

أي: و جاءت هذا الغافل المكذب بآيات ألله  (سكرة الموت بالحق) الذي لا مردله و لا مناص (ذلك ما كنت منه تحيد)اي ، تتأخر و تنكص عنه.

"Yakni, dan hal ini (kematian) datang kepada orang-orang yang lalai dan mendustakan ayat Allah "Sekarat kematian dengan sebenarnya" yang tidak bisa ditolak dan dihindari "itulah (saat-saat) yang selama ini kalian menghindar darinya" yakni, yang kalian hindari dan lari darinya". (Kitab Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan surah 50/19 terbitan Darul Alamiyah).

Di ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan dan memperingati hamba-hamba-Nya dari musibah besar ini:

كلا إذا بلغت التراقي و قيل من راق و ظن أنه الفراق.

"Sekali-kali tidak, ketika sampai nafas itu di kerongkongan, dan dikatakan saat itu siapa yang dapat meruqyah, dan ia menyangka saat-saat itulah waktu perpisahan". (QS. Al Qiyamah: 26-28).

Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah as Sady menjelaskan kembali hal ini:

يعظ تعلى عباده بذكر المحتضر السياق ، و أنه إذا بلغت روحه (التراق) و هي العظام المكتنفة لثغرة النحر ، فحينئذ يشتد الكرب ، و يطلب كل وسيلة و سبب ، يظن أن يحصل به الشفاء و الراحة ، و لهذا قال (و قيل من راق) اي ، من يرقيه من الرقية ، لأنهم انقطعت آمالهم من الأسباب العدية ، فتعلقوا بالأسباب الإلهية ، و لكن القضاء و القدر ، إذا حتم و جاء فلا مردله ، (و ظن أنه الفراق) للدنيا.

"Allah ingin memberi nasehat hamba-hamba-Nya, dengan mengingatkan akan datangnya ajal (pada seorang), dan ketika itu dia telah sampai pada kondisi rohnya di kerongkongan dan ia adalah tulang tempat lubang kerongkongan. Maka saat itu semakin dahsyat musibah atau petaka yang menimpanya, dan ia mencari segala wasilah dan sebab yang ia sangka akan bisa mendatangkan kesembuhan dan rehat. Dan karenanya, Allah berfirman: "Dikatakan saat itu, siapa yang dapat meruqyah". Yakni, siapa yang dapat menyembuhkanya dengan ruqyah.

Karena telah terputus (darinya) segala angan dari sebab yang wajar (untuk sembuh), saat-saat itu yang ia harap hanya sebab-sebab Ilahiyah (yakni harapan hanya terkait kepada Allah saja). Namun Qadha dan Qadar (yakni taqdir) telah berlaku. Ketika telah hatam (umur) dan telah datang (waktu) maka tidak akan ada yang bisa mencegahnya. Dan ia menyangka saat-saat itulah waktu perpisahan, (yakni) berpisah dengan kehidupan dunia". (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan surah 75/26-28).

Demikian wahai saudaraku, wahai saudariku. Telah berlaku bagi setiap hamba sebuah taqdir. Pena telah menulis (di angkat), dan lembaran-lembaran telah kering.

لا !، بل فيما جفت به الأقلام و جرت به المقادير

"Tidak, bahkan berdasarkan pada tinta yang telah mengering dan pada takdir yang telah ada".

Bahwa kematian akan mendatanginya. Tidak ada musibah yang besar melebihi kematian.

Sebagian orang menangis melihat sebuah peristiwa kematian, maka saya (Abu Abd Rahman) katakan: "Inilah tangisan orang yang tertinggal, padahal yang menangis lebih butuh untuk ditangisi".

Dalam syair dikatakan:

إنما المرؤ حديث بعده
فكن حديثًا حسناً لمن وعى

Sesungguhnya seorang itu bahan cerita bagi orang sesudahnya.
Maka jadilah cerita yang baik bagi orang yang mengenangnya .

Wahai orang yang tidak tersisa darinya kecuali keburukan. Hendak engkau tulis apa akhir hidupmu.

Sedang engkau membaca peringatan Rabbmu:

فما بكت عليهم السماء و الأرض ، و ما كانوا منظرين

"Maka langit dan bumi tidak menangis (dengan sebab kematiannya), sedang merekapun tidak diberi tangguhan (dari azab)". (QS. Ad Dukhan: 29).
Menangislah sedapat mungkin akan kematian, setiap hamba akan tiba masanya sebuah hari penggiliran.

Maraji':
• Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalami Manan.
• Ahwalul Qubur Ibnu Rajab.
• Al Imanu bil Qodhai wal Qodar.
• Talbis Iblis.
• Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.
• Ar Ruh Ibnu Qayyim.
• Dan lain-lain.

_____________________
Sidoarjo, oleh yang butuh dan mengharap ampunan Rabbnya.

🔰 @Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram     : http://t.me/Manhaj_salaf1
📱 Whatshapp  : 089665842579
🌐 Web              : dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram    : bit.ly/ittibarasul1
🇫 Fanspage      : fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Belum ada Komentar untuk "Musibah Kematian"

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel