Jangan Takut Berlebihan Pada Penyakit Menular Apapun Termasuk Corona




Oleh Ustadz Berik Said hafidzhahullah

Untuk menghindari kesalahfahaman dalam menarik kesimpulan masalah ini, maka ana akan mencoba mengupas masalah ini agak sistematis -walau berdampak tulisan ini akhirnya akan cukup panjang-, yang ana buat menjadi beberapa sub pokok bahasan berikut:

Adakah Penyakit Yang Menular Itu ?


Sebagian orang berkata tidak ada sama sekali penyakit menular, dengan beragumentasi pada hadits berikut:

لاَ عَدْوَى

"Tidak ada penyakit menular". [HSR. Muslim 2223]

Tidak diragukan, itu memang hadits yang shahih. Namun pengertian hadits tersebut bukan berarti meniadakan real adanya penyakit menular sama sekali !

Ini dibuktikan bahwa dalam hadits shahih lain Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menetapkan dan mengakui adanya penyakit menular, dan bahkan beliau memerintahkn untuk melakukan tindakan pencegahan atas penyakit menular ini.

Salah satunya apa yang dikatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang salah satu dari jenis penyakit menular, yakni penyakit kusta, beliau bersabda:

فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ

"Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa !". [HSR. Muslim 5380]

Pada hadits ini jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita agar menjauhi dari sumber penyakit menular.

Andai hakikat penyakit menular tidak ada, maka tentu tidak perlu beliau memerintahkan kita menjauh darinya. Ini perkara yang jelas. Dan yang lebih memperkuat ini adalah hadits berikut:

لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ

"Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit". [HSR. Bukhari 5771, Muslim 2221]

Hadits di atas juga menunjukkan adanya penyakit menular. Kalau tidak, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan memerintahkan untuk tidak mencampurkan antara unta yang sehat dengan unta yang sakit. Ini juga perkara yang jelas.

Juga terdapat perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  atas masalah penyakit menular:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا…

"Jika kalian mendengar wabah penyakit menular terjadi di suatu wilayah, jangan kalian memasuki wilayah itu". [HSR. Bukhari 5728, Muslim 2218]

Ini lagi-lagi menunjukkan penyakit menular itu ada. Andai hakikat penyakit menular itu tidak ada, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan melarang orang memasuki daerah yang sedang dilanda penyakit menular.

Nah, telah pasti ucapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selamanya tidak akan pernah kontradiktif ! Sebab segala perkataan beliau dibimbing oleh wahyu.

Lalu bagaimana mengkompromikan hadits pertama, yakni "Tidak ada penyakit menular" dengan tiga hadits setelahnya yang menunjukkan "Adanya penyakit menular" ?

Para Ulama kita telah banyak memberikan ulasan atas hadits yang sekilas nampak saling bertentangan ini. Namun salah satu jawaban terbaik tentang apa maksud hadits pertama, "Tidak ada penyakit menular" adalah jawaban yang disampaikan oleh Fatwa Lajnah ad Daa’imah berikut:

العدوى المنفية في الحديث هي: ما كان يعتقده أهل الجاهلية من أن العدوى تؤثر بنفسها، وأما النهي عن الدخول في البلد الذي وقع بها الطاعون فإنه من باب فعل الأسباب الواقية.

"Wabah penyakit menular yang dinegasikan dari hadits tersebut (hadits tidak ada wabah penyakit menular -pent), maksudnya yaitu apa yang menjadi keyakinan masyarakat jahiliyah bahwa wabah tersebut dapat menular dengan sendirinya. Adapun pelarangan masuk terhadap suatu tempat yang terdapat tho’un (wabah menular) karena itu masuk bagian tindakan preventif (pencegahan)". (Fatwa Lajnah ad Daai’mah no.16453)

Dengan penjelasan di atas kini kita mengetahui bahwa secara real penyakit menular itu memang ada, dan harus ada upaya untuk mencegahnya, namun dilandasi keyakinan bahwa penyakit menular itu tidak semata-mata berjalan sendiri, bahkan tetap, semua itu akan berjalan atau menjangkiti siapapun kecuali ujungnya mengikuti takdir.

Karenanya saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendapati seorang Shahabat yang berkata adanya seekor unta sakit kudis yang berada di tengah-tengah unta yang sehat, lalu unta yang sehat itu terpengaruh dan ikut terkena kudis, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Shahabat tersebut:

فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ ؟

“Lantas, siapa yang menular unta (penyakit) pertama kali (kalau bukan Allah -pent)". [HSR. Bukhari 5770, Muslim 2220]

Makanya Syaikh Al Albani rahimahullh juga saat mengkompromikan antara hadits yang berisi ketiadaaan penyakit menular dan hadits yang menunjukkan adanya penyakit menular, sebagaimana ana paparkkan di atas, maka beliau pada akhirya menyimpulkan: “Kesimpulannya, kedua hadits ini menetapkan adanya penyakit menular, dan hal itu telah terbukti dan nyata. Adapun hadits-hadits yang meniadakannya, maksudnya adalah penyakit menular kehendak/takdir Allah". (Silsilah ash Shahihah II:660)

Ketakutan Serta Kecemasan Berlebihan Atas Penyakit Menular Bisa Merusak Aqidah Seorang Muslim


Telah ana sampaikan di atas, bahwa penyakit menular itu memang real ada, dan mesti ada upaya menghindarinya (tindakan preventif). Tetapi penyakit menular itu pun tetap pada dasarnya tidak akan pernah bisa mengenai siapapun tanpa takdir dari Allah.

Dengan penjelasan di atas, maka semestinya kitapun tidak boleh berlebihan ketakutan atas penyakit menular apapun. Sewajarnya kita mengambil tindakan preventif, tetapi kecemasan yang melampaui batas atau penyakit menular corona atau apapun adalah tindakan melampui batas, bahkan dikhawatirkan bisa mengurangi tingkat kesucian Aqidah.

Mengapa demikian ?
Ada beberapa alasan yang bisa ana sampaikan di sini, namun agar tulisan ini tidak terlalu panjang, maka ana cukup dalam kesempatan ini menyebutkan tiga alasan saja: 

1) Dikhawatirkan ketakutan dan kecemasan berlebihan atas hal ini tanpa sadar, akan mengurangi keyakinan kita bahwa tidak ada satupun musibah datang kepada kita -termasuk musibah penyakit corona ini- kecuali atas kehendak Allah semata.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ

"Tidaklah ada sebuah musibah yang menimpa kecuali dengan izin Allah". (QS. at-Taghabun:11)

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah". (QS. Al-Hadid: 57:22)

Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

"Allah telah menulis seluruh takdir makhluk-makhluk 50.000 tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi". [HSR Muslim 2653]

2) Ketakutan berlebihan atas hal itu tidak menjamin seseorang akan aman dari virus atau musibah apapun, sementara bersikap tenang dan sewajarnya -dengan berarti tidak menafikan ikhtiar sama sekali- juga tidak akan menjadikan seseorang pasti terkena. Semua itu sangat bergantung penuh pada takdir-Nya, maka jangan terlampau takut dan cemas berlebihan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ

"Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya". (QS. Yunus: 107)

Atas dasar ayat di atas, maka salah satu prinsip Aqidah Ahlussunnah adalah sebagaimana dikatakan Imam As Shabuni rahimahullah (wafat 449 H):

ويشهد أهل السنة ويعتقدون: أن الخير والشر، والنفع والضر [والحلو] والمر بقضاء الله وقدره لا مرد لها ولا محيص ولا محيد عنها ، ولا يصيب المرء إلا ما كتب له ربه ، ولو جهد الخلق أن ينفعوا المرء بما لم يكتب الله له لم يقدروا عليه ، ولو جهدوا أن يضروه بما لم يقضه الله [عليه] لم يقدروا . على ما ورد به خبر عبد الله بن عباس [رضي الله عنهما] ، عن النبي ﷺ . قال الله عز وجل : وَإِن يَمْسَسْكَ اللّهُ بِضُرٍّ فَلاَ كَاشِفَ لَهُ إِلاَّ هُوَ وَإِن يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلاَ رَآدَّ لِفَضْلِهِ

“Ahlussunnah bersaksi dan meyakini bahwa kebaikan dan kejelekan, manfaat dan mudharat, serta manis dan pahitnya, terjadi hanya dengan ketetapan dan takdir Allah. Tidak akan ada yang mampu mencegah, menyimpangkan, serta menjauhkannya. (Karenanya) seseorang tidak akam tertimpa sesuatu kecuali sebatas ketentuan yang telah Rabb-Nya tuliskan baginya. Andai seluruh makhluk berupaya keras ingin memberikan manfaat kebaikan bagi seseorang dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan baginya, maka mereka tidak akan mampu melakukannya.

(Sebaliknya) andaikata sekuruh makhluk berupaya keras untuk memberikan mudharat padanya dengan sesuatu yang Allah tidak menetapkan untuknya, maka mereka pun tidak akan pernah mampu melakukannya. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas rdhiallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang haditsnya aka ana tuliskan di bawah -pent). Allah ‘Azza wa Jalla (juga) berfirman: "Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak kurnia-Nya". (QS. Yunus: 107)". (Aqidah Salaf wa Ashhaabul Hadiits, hal.70-71)

Hadits yang dimaksud Imam As Shabuuni rahimahullah di atas adalah hadits berikut:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

"Dan ketahuilah, seandainya umat ini bersatu untuk memberikan manfaat untukmu, maka mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka bersatu untuk memberikan mudharat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberikan mudharat kepadamu, kecuali apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Pena-pena telah diangkat dan lembaran-lembaran (takdir) telah kering". [HR. Turmudzi 2516 dan lain-lain. Kata Al Albani rahimahullah dalam Takhrij al Misykat 5232: Shahih]

3) Termasuk juga orang yang tertimpa penyakit menular atau apapun, tidak lepas ujungnya ada pada takdir-Nya, karenanya tidak usah kita terlalu kalut dan cemas. Tetaplah minta pertolongan pada Allah.

Makanya saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar ada suatu daerah yang sedang ditimpa wabah penyakit menular, maka di samping Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang penduduk diluar wilayah tersebut untuk memasuki wilayah yang sedang dilanda penyakit menular sebagai tindakan preventif, sebagaimana haditsnya telah kami sebut di atas-.

Ternyata beliau juga memerintahkan agar orang yang ada di dalam zona wilayah penyakit itu pun tidak usah keluar dari daerah itu. Ini perkatan beliau selengkapnya:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا

"Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, namun jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, maka kalian jangan meninggalkan tempat itu". [HSR. Bukhari 5728, Muslim 2218]

Nah diantara hikmah mengapa penduduk setempat yang berada di zona berkembangnya penyakit menular dilarang meninggalkan daerah itu, di samping salah satunya adalah agar penduduk di situ yang terjangkit penyakit menular tidak menyebarkan virus tersebut ke daerah lainnya yabg tidak terkena wabah tersebut.

Juga ini untuk mengajarkan agar tidak usah terlalu cemas berlebihan, karena tetap saja pada dasarnya penyakit menular itu tidak akan pernah bisa menular kecuali berdasarkan takdir Allah semata. Hal ini sebagiamana banyak dijelaskan para Ulama dalam berbagai kitab.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

🔰 @Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram: http://t.me/Manhaj_salaf1
🎥 Youtube: http://youtube.com/ittibarasul1
📱 Group WhatsApp: wa.me/62895383230460
📧 Twitter: http://twitter.com/ittibarasul1
🌐 Web: dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram: http://Instagram.com/ittibarasul1
🇫 Facebook: http://fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Belum ada Komentar untuk "Jangan Takut Berlebihan Pada Penyakit Menular Apapun Termasuk Corona"

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bijak

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel