Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tindak Tanduk Penguasa

 



Oleh Ustad Abu Abdurrahman Al-Atsary hafidzhahullah

Salafy Dan Muamalahnya Dengan Pemerintah

Pembatas yang jelas dan bisa dilihat antara sikap ahlu bid'ah dan Ahlu Sunnah adalah sikap mereka terkait muamalah terhadap pemimpin yang zalim. Bila pemimpin itu adalah pemimpin yang adil, lurus lagi baik, maka tentunya bukan satu hal yang mengagetkan, bila rakyat tunduk dan taat kepada mereka.

Namun, engkau akan melihat bagaimana perbedaan sikap yang syar'i dan yang tidak syar'i, berdasarkan bimbingan atau hawa nafsu bila sudah menyikapi kezaliman penguasa. Jelas saja, keumuman manusia akan baik dan tunduk ketika menyikapi pemimpin yang lurus lagi baik, namun pahala didapat, kesabaran itu diuji, dan janji pahala itu ada pada saat kita menyikapi pemimpin dan penguasa zalim.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman menjelaskan keumuman sifat para pemimpin dan penguasa, kecuali yang di Rahmati oleh-Nya:

قالت إن الملوك إذا دخلوا قرية  افسدوها و جعلوا اعزة  اهلها أذلة و كذلك يفعلون

"Ia (ratu itu) berkata, sesungguhnya para penguasa bila telah menguasai satu negeri, mereka akan membuat kerusakan dan menjadikan orang-orang yang terpandang dinegeri itu menjadi hina dan demikianlah yang akan mereka perbuat". (QS. An-Naml: 34)

Ayat ini begitu jelas, namun seringnya hanya dilewati dan tidak pernah kita renungkan. Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan kondisi para penguasa, bahwa keumuman sifat mereka adalah arogan dan zalim, kecuali para pemimpin yang di Rahmati oleh-Nya. Maka, kenapa kita begitu terkejut ketika kita melihat kezaliman mereka, seakan tidak pernah membaca firman Allah ini.

Bila memang Allah mensifati keumuman mereka seperti itu,  maka yang menjadi tugas kita adalah bagaimana bersikap dengan sikap yang terbimbing, bukan hanya dengan modal semangat dan hawa nafsu.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepada Musa dan saudaranya Harun 'alaihimus sallam untuk menghadap ke depan thaghut di zamannya pemimpin orang-orang kafir lagi durhaka, seorang yang mendakwahkan sifat-sifat Rububiyah pada dirinya, yakni Fir'aun:

إذهب أنت و اخوك بآياتي و لا تنيا في ذكري . إذهبا الى فرعون إنه طغى . فقولا له قولا لينا لعله يتذكر أو يخشى

"Hendaknya engkau (Musa) berangkat bersama saudaramu (Harun) dengan membawakan ayat-ayat-Ku dan janganlah kalian dilupakan dari mengingat-Ku. Pergilah kalian berdua untuk menghadap Fir'aun, sesungguhnya ia adalah orang yang melampaui batas. Dan hendaknya kalian berdua berbicara dengannya dengan lembut, semoga dengan itu ia ingat dan muncul pada dirinya rasa takut". (QS. Thaha: 42-44)

Kepada pemimpin yang zalim lagi kafir, thaghut dizamannya dan yang didunia ini tidak akan ada orang semisal dengannya, baik dari sisi kualitas dan kuantitas dalam kezaliman. Allah memberikan tugas kepada Musa dan Harun untuk mendatanginya sebagai seorang kesatria dan berbicara kepada thaghut dizamannya dengan kelembutan agar muncul kesadaran dan muncul rasa takut darinya (Fir'aun).

Lalu bagaimana lagi bila yang kita hadapi adalah para pemimpin dan penguasa yang masih shalat, menunjukkan syi'ar syi'ar keislaman pada dirinya meskipun sangat sedikit dan mereka menyatakan dirinya sebagai ahlu kiblat (orang Islam) ? Tentunya, wajib kita sebagai rakyat memiliki keadilan sikap dan dalam cara memandang.

Ahlussunnah bukan Khawarij, yang begitu reaksioner terkait kezaliman penguasa. Ataupun bukan juga Murji'ah yang menganggap enteng kemungkaran dan dosa serta penjilat. Namun, Ahlussunnah adalah orang-orang yang menempuh jalan syar'i untuk menyelesaikan dan menghadapi kezaliman para penguasa, ketika terlihat kezaliman pada sebagian sikap mereka.

Ahlussunnah bukan para penyiram bensin pada kobaran api fitnah, yang meluluh lantakkan kondisi yang sudah rusak untuk lebih rusak, namun mereka memiliki sifat yang mengenal Rabbnya dan kasih sayang kepada makhluk. Mereka menyikapi kezaliman penguasa dengan jalan terbimbing lagi lurus. Dan sikap mereka adalah:

1) Tunduk dan taat, serta mendengar kepada pemimpin dalam urusan yang ma'ruf.

Tidak serta merta mencabut ketaatan ketika melihat kezaliman yang tampak dari seorang pemimpin.

2) Menjaga kehormatan para pemimpin dengan tidak mencelanya didepan umum, sehingga luntur ketaatan umum dan hilang pemuliaan pemimpin dimata rakyatnya.

Karena ini adalah pintu fitnah. Betapa banyak kerusakan terjadi dengan terbukanya pintu ini, sehingga fitnah itu semakin luas dan membakar yang ada dan tidak menyisakan sedikitpun, kecuali kerusakan dan kehancuran.

Diantara kerusakan itu adalah demontrasi, mencela pemimpin didepan umum dan mencabut ketaatan secara umum dan mengobarkan semangat perlawanan terhadap pemerintah sehingga fitnah tidak terkendali dan muncul campur tangan orang-orang kafir untuk merusak tatanan.

3) Tidak boleh seorang muslim untuk menjadi pemicu kerusakan dan fitnah, bahkan ia wajib meredam ketika fitnah itu mulai muncul.

Karena gelapnya fitnah akan membuat mata tidak lagi jernih melihat masalah, bahkan berapa banyak kaki-kaki tergelincir, baik orang awam maupun orang berilmu saat fitnah terjadi. Maka dari itu, saat fitnah terjadi wajib bagi para pengemban ilmu untuk kembali kepada urusan awal mereka. Yakni kembali kepada ilmu, ketaatan dan tidak ikut mengobarkan api perpecahan.

4) Menasihati pemimpin dengan kesatria, datangi ia bila sanggup, inilah jalan Salaf.

Mereka tidak akan pernah membuka fitnah dengan mengumbar kejelekan penguasa didepan kaum awam, karena itu tidak ada manfaatnya, namun ia memberikan nasihat yang lembut kepada pemimpin untuk bertaqwa kepada Allah, melaksanakan hak Allah, Islam, dan pembelaan mereka terhadap agama, mengedepankan kepentingan agama dan rakyatnya dan kepada rakyat mereka juga memberikan nasihat agar memuliakan pemimpin, tidak mencabut ketaatan dari mereka dan berusaha untuk menyatukan kalimat.

5) Mereka menyerahkan urusan kepada Allah, bila nasihat mereka tidak diindahkan, peringatan mereka di acuhkan, karena tidaklah kezaliman itu kecuali akan kembali kepada pemiliknya dan demikian juga keadilan.

Mereka menunjukkan sikap sabar terhadap kezaliman, bertaubat kepada Allah karena tidaklah terlihat kezaliman dari pemimpin kecuali atas kezaliman dari rakyatnya. Karena tidaklah satu pemimpin muncul kecuali atas pilihan rakyat itu sendiri. Sehingga Allah mengistirahatkan orang-orang baik dari keburukan orang-orang jahat.

Karena Allah-lah yang akan mewarisi bumi ini dengan semua isinya. Dia yang memberi kuasa kepada satu orang dan Dia juga yang mengambil kuasa dari mereka.

6) Senantiasa mendoakan kebaikan dan hidayah bagi pemerintah dan penguasa.

Karena kebaikan dan hidayah pemimpin adalah rahmat bagi rakyat. Sebagaimana kezaliman pemimpin adalah azab bagi rakyat. Maka dari itu Ahlussunnah senantiasa mendoakan kebaikan berupa doa hidayah kepada Allah untuk para pemimpin kaum muslimin.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

_______
Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

Group WhatsApp: wa.me/6289665842579

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Tindak Tanduk Penguasa"