Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kesombongan Terselubung Yang Masih Tersisa Di Sebagian Penuntut Ilmu



Oleh Ustadz Abu Abd rahman bin Muhammad Suud Al Atsary hafidzahullah

Ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam ditanya tentang kesombongan, maka beliau menjawab dengan jawaban yang begitu menakjubkan:

الكبر: بطر الحق و غمط الناس

"Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan/menghina manusia lainnya". [HR. Muslim no.2740]

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, mengingatkan hamba-hamba-Nya akan karunia dan rahmat-Nya:

أ هم يقسمون رحمت ربك ؟ نحن قسمنا بينهم معيشتهم في الحياة الذنيا ، و رفعنا بعضهم فوق بعض درجات ، ليتخذ بعضهم بعضا سخريا ، و رحمت ربك خير مما يجمعون

"Apakah mereka yang berhak membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kamilah yang telah membagi kehidupan mereka dikehidupan dunia. Dan kami lebihkan/angkat sebagian diatas sebagian lain derajatnya agar antara satu dengan lainnya mengambil manfaat. Dan rahmat Rabbmu (pada seorang) lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan (dunia)". (QS. Az Zukhruf: 32)

Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengingatkan kita sebagai hamba, agar dalam kehidupan dunia ini memiliki sifat rendah hati, menjauhi kesombongan, dan memuliakan manusia. Menjauhi sifat-sifat sombong, angkuh terhadap apa yang ada pada diri kita, dari ilmu, pengaruh, kekayaan, kemasyhuran dan kecerdasan, yang kemudian memunculkan sifat meremehkan orang lain yang dianggap rendah dan tidak sederajat.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam telah mencabut akar-akar sifat Jahiliyah dan tidak memperkenankan kaum muslimin memilikinya.

ألا كل شيء من أمر الجاهلية قدمي موضوع.

"Ketahuilah setiap hal mengenai perkara jahiliyah telah kuhapus dibawah telapak kakiku". [HR. Muslim]

Imam Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan: "Walaupun seorang telah beriman dan berilmu, ia belum akan memetik manfaat dari nikmat Allah pada dirinya, kecuali setelah ia mengetahui hakikat dirinya, menempatkan dirinya sesuai kapasitas, tidak melampaui kemampuannya, dan melewati batas. Orang yang mengenal dirinya, tidak akan mengatakan "nikmat ini milikku", sebaliknya ia memahami semua karunia yang disisinya (dari ilmu, kekayaan, dan dunia) merupakan milik Allah.

...Semua nikmat yang diperoleh hamba, akan membuatnya rendah hati dan merasa hina, sebagaimana perasaan seorang yang merasa hina dan rendah karena tidak memiliki kebaikan sedikitpun pada dirinya.

...Kesadaran mengenai sumber nikmat itu benar-benar memunculkan perasaan rendah hati, tidak merasa takjub dengan dirinya, dan setiap kali ia mendapat nikmat (berupa ilmu, kedudukan dan dunia), setiap itu pula ia merasa semakin rendah hati, merasa tidak berdaya, semakin khusyu', cinta dan berharap kepada-Nya.

Hal diatas sebagai hasil dari dua hal:

• Pengetahuan hamba akan Rabb-Nya. Yang mencakup kesempurnaan, kemurahan, kekayaan, kedermawanan, kebaikan, dan anugerah rahmat-Nya. Juga pengakuan bahwa, segala kebaikan hanya ada di tangan-Nya.

• Pengetahuan hamba akan dirinya. Tentang hakikat dirinya, keterbatasannya, kekurangannya, kedzalimannya, dan kebodohannya. Juga keinsyafan, bahwa ia tidak berperan atas kebaikannya, dan kebaikan itu pun tidak berasal dari dirinya, dari semua itu ia tidak menisbatkan semua kebaikan kembali padanya dan olehnya (namun semata karunia Allah atasnya)". (Al fawaid 497-498)

Syaikh Abdurrahman bin Nasir bin Abdillah As Sady rahimahullah menjelaskan: "Dalam ayat ini (surah Az-Zukhruf ayat 32) terdapat peringatan atas hikmah Allah dalam melebihkan sebagian orang atas orang lain di dunia". Didalam ayat ini juga adanya penjelasan bahwa nikmat agama (dari ilmu, ibadah, dan kebaikan) lebih baik dari nikmat dunia". (Lebih jelasnya lihat kitab Taisir Karimir Rahman Fi tafsir Kalami Manan surah 43/3)

Demikianlah, bahwasanya semua karunia Allah pada hamba-hamba-Nya seharusnya menjadikan mereka bersyukur, merendah diri, dan mengaitkan semua kenikmatan itu kepada pemberi rejeki (Allah Ta'ala), bukan menjadikan seorang menjadi sombong dan celaka. Ketika ia melihat dirinya dalam kemasyhuran, ketinggian ilmu, dan kekayaan dunia, dan menjadikan mereka menilai rendah orang lain. Namun demikian, karena kecerdikan setan dan besarnya hawa nafsu dari sebagian orang. Bahwasanya setan, bila tidak bisa menarik pada satu sisi, maka ia lewat sisi lain, dan menghiasi sisi-sisi buruk dengan gambaran baik pada jiwa seorang.

Sebagian penuntut ilmu, mungkin ia tau hukum sombong dari sisi menolak kebenaran dan menolak nasehat serta ia berusaha menjauhinya. Namun ia ternyata terjerumus dalam sebagian kesalahan lainya, yakni merendahkan orang lain.

Baik dibawah ini kita beri sebagian contoh bentuk-bentuk "sebagian sifat Jahiliyah" yang melekat pada sebagian penuntut ilmu dan kadang dominan dan terasa disebagian sikap penuntut ilmu, dan semoga kita terhindar darinya.

Pertama, membagi antara Ustadz dan kajian sebagai Ustadz lokal dan Ustadz nasional, Ustadz non viral dan Ustadz viral, juga Ustadz luar negeri dan Ustadz dalam negeri, juga lulusan apa, kajian besar dan kajian kecil rutin, sehingga dampaknya kajian ramai hanya saat kajian isidentil dan tematik sepi dan juga mungkin tidak ada yang hadir, bila kajian kitab atau rutin. Menjadikan kita memilih dan memilah kajian.

Tidak ada satu pun materi selesai, tidak ada satu pun kitab yang kita talaqikan dibaca tuntas, karena kajian kita loncat-loncat. Dampaknya, ilmu kita tidak pernah kokoh, tidak pernah Mutqin, dan kita ramai di permukaan, dan tidak jelasnya Manhaj serta tidak terdapat kekokohan Aqidah.

Dampak lainnya adalah bencana yang besar dan sudah terbukti, masuknya penebar-penebar syubhat, karena pandainya seorang bicara, dan bertitel, ia baru membuka taringnya, bahwa ia bukan Salafy ketika sudah memiliki pengikut.

Benar, kita wajib melihat darimana dan kepada siapa kita ambil ilmu, wajib bagi kita ambil pada orang yang kokoh Manhaj dan Aqidahnya. Namun yang terjadi adalah sikap merendahkan orang lain dari sisi sekolah dimana, luar negeri atau dalam negeri, dan mengkotak guru sebagai lokal dan nasional, tentu ini adalah sikap peremehan bukan saja pada pembawa ilmu, namun juga pada ilmu itu sendiri.

Dampak berikutnya, sebagian penuntut ilmu tidak lagi menfokuskan menuntut ilmu murni karena Allah dan ilmu itu. Namun prestise, dan pengakuan oleh mad'u-nya, untuk memperoleh sekedar pengakuan.

Sebagian kasus, bagaimana kita dapati seorang yang ia senior dalam perjuangan dakwah, dari tangannya sebagai wasilah, Allah memberi hidayah pada sebagian besar manusia pada sunnah, dan ia menghabiskan umur sampai beruban dalam dakwah. Lalu datanglah seorang anak muda, yang baru belajar kemarin sore, bilang Ustadz itu tidak terekomendasi, karena tidak sekolah di kampus, atau Lipia, atau Madinah hanya lulusan pondok. Kita berlindung dari talbis buruk semacam ini.

Kedua, tidak familiarnya sebagian orang, hatta hanya untuk mengucapkan salam dan menyapa di kajian, terutama pada orang-orang baru ngaji. Mereka membentuk group ekslusif sesama mereka. Mungkin tidak terasa, karena sudah kebiasaan.

Sikap ini tentu bentuk merendahkan orang yang baru, terlebih bila tampilan mereka belum sunnah, bila wanita, pakaiannya masih warna warni. Padahal mereka yang paling harus mendapat sentuhan dan perhatian kita. Sebagian orang kembali pada hidup lamanya, karena merasa tidak dihargai keberadaanya oleh komunitas yang lama ngaji.

Ketiga, dibentuknya kajian-kajian sunnah ekslusif, bahkan berbayar, ditempat-tempat yang orang miskin tidak akan mampu mengikutinya. Sebagian pengelola bahkan mengkomersilkan kajian-kajian, bukan karena keadaan diperlukan, namun lebih cenderung mengambil keuntungan. Kenapa kajian tidak ditempatkan ditempat umum, sehingga semua orang dapat mengaksesnya, bukankah agama ini berhak semua orang mengambilnya?

Kami sertakan tiga contoh saja, untuk memudahkan pemahaman.

Mari saudaraku, kita hidup dengan hiasan ilmu dan kerendahan hati. Menjauhi kesombongan meskipun sekecil apapun.

Mari kita sadari bahwa semua keutamaan hanya dari Allah, ia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan karunia yang ada pada kita, semata dari Allah, bukan karena usaha dan kecerdasan kita. Dan akibat yang baik adalah bagi orang yang bertaqwa.

🔰 @Manhaj_salaf1

•┈┈•••○○❁🌻💠🌻❁○○•••┈┈•

Mau dapat Ilmu ?
Mari bergabung bersama GROUP MANHAJ SALAF

📮 Telegram : http://t.me/Manhaj_salaf1
📱 Whatshapp : 089665842579
🌐 Web : dakwahmanhajsalaf.com
📷 Instagram : bit.ly/ittibarasul1
🇫 Fanspage : fb.me/ittibarasul1

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Posting Komentar untuk "Kesombongan Terselubung Yang Masih Tersisa Di Sebagian Penuntut Ilmu"